Kampung Lele Mutiara, Bangkitkan Perekonomian Masyarakat

Kampung Lele Mutiara, Bangkitkan Perekonomian MasyarakatPeternak Kampung Lele.

KEADILAN – Meningkatkan produksi perikanan budidaya serta kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan kampung-kampung perikanan budidaya air tawar, air payau dan air laut berbasis kearifan lokal pada sejumlah daerah di Indonesia, menjadi salah satu program terobosan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Tahun 2021-2024, yang digaungkan Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono.

Pembangunan kampung perikanan pada dasarnya merupakan bagian titik tolak pembangunan desa. Dikarenakan membangun desa harus dilakukan secara bottom up dengan melihat potensi dan kekuatan yang ada di daerah tersebut, sehingga kemajuan desa akan berdampak pada skala regional bahkan nasional. Keunggulan komparatif desa atau kampung inovasi ikan dapat ditonjolkan diantaranya dengan kearifan budidaya ikan lokal, kampung ikan bebas sampah, kampung penghasil pakan ikan lokal dan lain sebagainya.

Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM KP) selaku Unit Eselon I KKP, berperan merealisasikan kampung perikanan budidaya dengan mengembangkan beragam kampung perikanan, salah satunya Kampung Lele di Desa Sumurgede, Kecamatan Cilamaya Kulon, Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat sejak Juni 2021.

Sebagaimana diketahui, Karawang merupakan daerah potensial dalam mengembangkan budidaya perikanan. Tercatat pada tahun 2018, Karawang memiliki 18.275,00 hektare tambak, 1.088,80 hektare kolam air tenang, serta 148 unit kolam jaring apung. Hal tersebut menunjukkan bahwa Karawang bukan hanya Kota Industri, tetapi juga memiliki potensi perikanan budidaya dengan penghasilan yang cukup besar, dengan keuntungan berkisar antara Rp5-13 juta dalam berbudidaya lele.

Namun demikian bukan lele sembarang lele yang dibudidayakan di Kampung Lele Desa Sumurgede, melainkan lele Mutiara (Bermutu Tiada Tara) yang merupakan strain unggulan hasil penelitian Balai Riset Pemuliaan Ikan (BRPI).

Proses pemuliaan lele Mutiara telah dilakukan sejak tahun 2015 dengan melewati serangkaian uji coba. Lele Mutiara dihasilkan dari seleksi persilangan empat strain lele Afrika yang ada di Indonesia yakni, lele Mesir, lele Phyton, lele Sangkuriang, dan lele Dumbo.

Lele Mesir, yang merupakan lele hibah dari mantan Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jawa Barat, memiliki keunggulan berupa daya tahan yang kuat terhadap penyakit dan lingkungan serta keseragaman ukurannya yang tinggi, namun pertumbuhan dan fekunditasnya relatif rendah. Lele Phyton merupakan koleksi dari Model Pembenihan Ikan Lele (MPIL) Mojokerto, memiliki keunggulan berupa pertumbuhannya yang cepat dan bagus serta efisiensi pakan yang tinggi, namun tingkat keseragamannya rendah, sifat kanibalismenya tinggi, dan lebih rentan terhadap penyakit.

Sedangkan lele Sangkuriang yang merupakan koleksi dari Balai Pengembangan Budidaya Air tawar (BPBAT) Cijengkol memiliki keunggulan berupa fekunditas yang tinggi dan daya adaptasinya terhadap lingkungan budidaya yang baik, namun rentan terhadap penyakit serta tingkat pertumbuhannya yang relatif rendah. Sementara itu lele Dumbo yang diperoleh dari pembenih lokal merupakan populasi pelengkap dengan performa moderat. Dari keunggulan masing-masing tersebut didapatkan 1 strain baru (lele Mutiara) hasil persilangan empat strain tersebut selama 3 generasi pada karakter pertumbuhan.

Lele Mutiara ini pun telah dilepaskan ke masyarakat berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 77/KEPMEN-KP/2015. Keunggulan dari lele Mutiara adalah: Laju pertumbuhan tinggi berkisar 10-40 persen lebih tinggi daripada jenis lain; Lama pemeliharaan singkat, dimana pembesaran benih tebar berukuran 5-7 cm atau 7-9 cm dengan padat tebar 100 ekor/m2 berkisar 40-50 hari, sedangkan pada padat tebar 200-300 ekor/m2 berkisar 60-80 hari; Keseragaman ukuran relatif tinggi, tahap produksi benih diperoleh 80-90 persen benih siap jual dan pemanenan pertama pada tahap pembesaran tanpa sortir diperoleh ikan lele ukuran konsumsi sebanyak 70-80 persen; Rasio konversi pakan (FCR = Feed Conversion Ratio) relatif rendah, antara 0,6-0,8 pada pendederan dan 0,8-1,0 pada pembesaran.

Lele Mutiara juga memiliki daya tahan yang relatif tinggi terhadap penyakit dengan sintasan (SR = Survival Rate) pendederan benih berkisar 60-70 persen pada infeksi bakteri Aeromonas hydrophila (tanpa antibiotik). Ikan unggulan ini juga memiliki produktivitas relatif tinggi pada tahap pembesaran, mencapai 20-70 persen lebih tinggi daripada benih-benih strain lain.

Dari hasil uji lapang juga menunjukkan hasil yg konsisten (stabil). Benih lele Mutiara memiliki performa pertumbuhan dan parameter-parameter produktivitas yg selalu lebih tinggi (unggul) serta keuntungan usaha 2-9 kali lipat daripada benih-benih pembandingnya, sehingga sesuai untuk digunakan dalam usaha pembesaran di berbagai lokasi dan sistem pembesaran.

Penerus Bonar

Editor      :
Reporter :