Mahfud MD: Dulu Wartawan Ditangkap

Mahfud MD: Dulu Wartawan DitangkapMenteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Polhukam) Mahfud MD.

KEADILAN-Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Polhukam) Mahfud MD menegaskan, kemerdekaan pers di era pasca reformasi memiliki landasan yang semakin kuat. Pasalnya, kekuasaan pemerintah adalah residu dari hak asasi dan demokrasi.

“Hak asasi diberikan semua, lalu pemerintah diberi sisanya, sedikit, untuk mengatur. Nah era ini menjadi tantangan baru bagi kemerdekaan pers tanah air” ujar Mahfud, Jumat (20/8/2021).

Saat ini lanjut Mahfud, khususnya sesudah amandemen UUD 1945, kekuasaan pemerintah hanyalah merupakan residu dari hak asasi. Sementara sebelum reformasi yang terjadi sebaliknya, hak asasi merupakan residu dari pemerintah.

“Kalau dulu, wartawannya ditangkap, dulu ada istilah bredel, ada blackout, kemudian dilarang membeli kertas kepada pemerintah. Itu dulu. Di zaman reformasi kita ubah, mengambil semua konvensi PBB tentang hak asasi,” kisahnya.

Dikatakan Mahfud, peran pers sebagai lembaga untuk melakukan kontrol sosial. Pemerintah pun kata Mahfud sangat mengharapkan pers tetap melakukan tugas tersebut dengan baik.

“Karena itu, pers adalah mitra strategis pemerintah. Masukan, saran, dan kritik yang disampaikan publik di media massa, adalah salah satu dasar pemerintah dalam pembuatan kebijakan,” tegasnya.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) ini pun menyoroti beberapa tantangan pers saat ini. Menurutnya, perkembangan teknologi menjadi tantangan utama bagi pers sehingga pers harus terus melakukan konvergensi untuk dapat bertahan hidup.

Mahfud berharap kualitas dan kompetensi para jurnalis dan pengelola media terus ditingkatkan. “Dengan kualitas teknis dan etik yang baik, pers kita bisa menghindari terjadinya kesalahan kutip, judul yang tidak sesuai dengan isi berita, data tidak akurat, nara sumber yang tidak kredibel, atau mencampurkan fakta dengan opini” pungkasnya.

Odorikus Holang

Editor      :
Reporter :