KKP Bagikan Inovasi Olahan Lele Agar Lebih Disukai Masyarakat

KKP Bagikan Inovasi Olahan Lele Agar Lebih Disukai MasyarakatPengolahan makanan berbahan ikan lele.

KEADILAN – Ikan lele merupakan salah satu jenis ikan yang akrab dan digemari masyarakat. Harganya yang lebih murah dibandingkan protein hewani lain seperti ayam atau sapi, namun tetap bergizi membuat komoditas ini menjadi ikan favorit masyarakat. Sebagai gambaran, dalam 100 gram daging ikan lele, mengandung protein sebesar 18,7 gram. Tak hanya itu ikan lele mudah dibudidayakan dan gampang didapat di semua daerah.

“Ikan lele biasanya dikonsumsi dalam bentuk aneka masakan seperti digoreng, dibakar atau digeprek,” kata Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Artati Widiarti saat membuka Webinar Ke-13 Quality Time With BBP3KP, Rabu (25/8/2021).

Mengusung tema “Praktek Pengolahan Mantao Ikan dan Seni Fotografi Makanan”, Balai Besar Pengujian Penerapan Produk Kelautan dan Perikanan (BBP3KP) bekerja sama dengan Himpunan Alumni FPIK-IPB (HA-C IPB) mencoba mengenalkan cara lain menikmati ikan lele. Artati menilai, inovasi sangatlah penting untuk mendekatkan ikan tersebut kepada anak-anak dan remaja.

“Ini biar mereka semakin bangga dan tidak malu makan lele. Karenanya penganekaragaman produk olahan lele yang mudah dan enak menjadi sangat penting,” sambungnya.

Artati menambahkan, kreasi yang inovatif juga menjadi bagian dari gerakan memasyarakatkan makan ikan (Gemarikan) yang dicanangkan oleh KKP untuk menggalakkan konsumsi ikan di masyarakat, serta upaya pemerintah dalam pencegahan stunting. Terlebih ikan menjadi salah satu solusi utama bagi permasalahan gizi masyarakat, terutama ikan lokal karena harganya terjangkau.

“Stunting adalah kondisi gagal pertumbuhan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak) akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Umumnya disebabkan asupan makan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi terutama protein,” terangnya.

KKP Bagikan Inovasi Olahan Lele Agar Lebih Disukai Masyarakat 1
Senada, Kepala BBP3KP, Widya Rustanto menyebut lele bisa diolah menjadi mantao atau sejenis roti, jajanan khas Tiongkok yang bertekstur lembut dengan cita rasa mirip bakpao. Menurutnya, mantao sangat cocok dikonsumsi anak-anak dan remaja sebagai makanan pembuka, pengganti sarapan maupun makanan malam.

“Mantao ini merupakan hasil inovasi dari perekayasa BBP3KP pada tahun 2015 lalu dan bisa digunakan untuk alternatif usaha di bidang pengolahan ikan,” ujar Widya.

“Proses pembuatan mantao yang mudah, sederhana dan bahan bahannya dapat dikreasikan dengan ikan lele membuat produk ini dapat dikembangkan menjadi varian baru produk bergizi dan dapat menambah pendapatan masyarakat,” terang Widya.

Dipadukan dengan pelatihan fotografi makanan, dia berharap para peserta pelatihan tak hanya bisa memproduksi hasil inovasinya, melainkan juga bisa memasarkan produknya secara daring. Merujuk pada riset Indonesian E-commerce Association (IdEA), penjualan e-commerce meningkat 25% selama pandemi Covid-19.

Foto atau gambar yang menarik pun menjadi penting bagi branding atau iklan di toko daring. Semakin menarik suatu foto produk, maka semakin banyak pembeli dan pengunjung yang tertarik membeli produk yang ditawarkan.

“Pada dasarnya manusia termasuk makhluk visual yang cenderung melihat tampilan fisik sesuatu terlebih dahulu. Karenanya foto untuk branding memiliki peranan yang cukup besar dalam memasarkan suatu produk terutama di toko online, sehingga teknik fotografi produk sangat diperlukan dalam hal ini,” tutupnya.

Adapun Dezty Su salah satu narasumber yang ahli di bidang food photography membeberkan tips-tips singkat seputar seni memotret makanan agar tampak indah dan menggiurkan. Secara garis besar Dezty membeberkan aspek-aspek yang wajib dikuasai untuk memotret makanan.

“Sebelum memulai untuk memotret makanan ada 3 aspek yang harus dikuasai yaitu pencahayaan, penataan makanan serta komposisi yang meliputi tata letak dan warna,” terang Dezty.

Pencahayaan merupakan sesuatu yang penting dalam fotografi, sehingga perlu diperhatikan tentang karakter cahaya, sumber dan arah cahaya. “Untuk food photography, pencahayaan yang bagus menggunakan arah cahaya dari belakang, samping atau rim light (dari sudut seperempat obyek). Dengan pengaturan cahaya yang benar akan membuat produk terlihat berdimensi sehingga lebih menarik,” kata Dezty.

Selain pencahayaan, hal yang harus diperhatikan adalah penataan makanan. “Inti food photography adalah menata makanannya, supaya makanannya terlihat rapi, indah dan cantiknya makanan bisa tereksplor,” imbuh Dezty.

Selanjutnya, hal terakhir yang harus diperhatikan adalah tentang komposisi. Ada puluhan komposisi dalam dunia fotografi, tetapi yang sering dipakai dalam food photography adalah rule of third. Membagi bidang gambar menjadi tiga bagian yang sama besar dan proporsional baik horizontal maupun vertikal. Kemudian obyek makanannya diletakkan di salah satu titik perpotongan dalam bidang gambar. Teknik komposisi lain yang bisa diterapkan adalah golden triangle, membagi foto menjadi tiga buah segitiga.

“Untuk yang baru mulai menekuni food photography perbanyak referensi dengan melihat foto-foto orang atau brand lain yang sudah bagus untuk dilihat, diamati dan ditiru pada produk kita. Kuncinya adalah sering latihan, mencoba dan jangan patah semangat,” pesan Dezty.

Penerus Bonar

Editor      :
Reporter :