132 Orang Tewas Karena DBD, Ini Kata Anggota DPR

132 Orang Tewas Karena DBD, Ini Kata Anggota DPR

KEADILAN – “Ada yang baru, yang lama dilupakan’. Itulah sebuah ungkapan bahwa negeri ini melupakan Virus DBD (Demam Berdarah Dengue) akibat dampak Virus Corona (Covid-19) yang tersebar di Indonesia.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat sejak Januari hingga 12 Maret 2020, terdapat 19.391 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia. Tiga provinsi tertinggi zona merah kasus DBD yakni Lampung sebanyak 3.431 kasus, Nusa Tenggara Timur (NTT) 2.732 kasus, dan Jatim 1.761 kasus. Jumlah keseluruhan korban meninggal akibat DBD sebanyak 132 orang, jumlah korban meninggal dunia terbanyak di NTT, yakni 32 orang.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemkes Siti Nadia Tarmizi menegaskan angka sesungguhnya mungkin lebih banyak. “Mungkin saja kemarin-kemarin daerah-daerah itu belum melaporkan. Karena kalau 2000 (peningkatan kasus dari Rabu-Kamis) dibandingkan 371 kabupaten kota yang melaporkan, angkanya relatif kecil,” kata Nadia pada Jumat, 13 Maret 2020.

Nadia mengungkapkan, ada beberapa alasan kenapa penyakit ini mewabah di Indonesia. Pertama, ialah soal ketersediaan rumah sakit. Hal itu diperparah dengan keberadaan puskesmas yang tidak merata dan kapasitasnya kurang. Idealnya, rumah sakit rujukan cukup merawat pasien DBD stadium 3 dan 4. Pada kondisi ini pasien memiliki trombosit antara 105 hingga 99 ribu, gusi berdarah sekali, pendarahan, dan sedikit bintik-bintik merah. Sementara puskesmas bisa digunakan untuk merawat pasien stadium 1 dan 2.Kedua, ada faktor masyarakat yang tidak mau dirujuk dan memilih perawatan di rumah. Terakhir, lingkungan sulit air yang membuat warga terbiasa menyimpan air di berbagai wadah, yang akhirnya menjadi medium berkembang biaknya nyamuk.
“Setidaknya ada tiga faktor yang menyebabkan, DBD mewabah di Indoenesia,” ucap Nadia.
Selain itu, Nadia menjelaskan, gigitan nyamuk paling banyak terjadi di luar ruangan. Menurutnya, selama ini persepsi masyarakat, aktivitas PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) itu di rumah-rumah. Padahal, sekolah-sekolah kurang mendapat perhatian untuk dipastikan bebas jentik nyamuk. Ia mengklaim, upaya PSN sebetulnya sudah menjadi perhatian Kemkes sejak lama, tetapi imbauan itu tak seluruhnya didengar. Pemerintah daerah justru baru bergerak memberantas habitat nyamuk ketika kasus telah membengkak.
“Kalau kita melakukan PSN sebelum masa penularan satu pekan sekali itu cukup. Tapi kalau sudah masa penularan, di kecamatan saja, contoh terkecil, berarti intervensinya harus di seluruh daerah,” ucap Nadia lagi.
Sementara itu, anggota Komisi IX DPR RI M Nabil Haroen mengatakan, selain penyebaran wabah virus corona yang masih menjadi persoalan dan harus diwaspadai, pemerintah juga harus waspada dengan meningkatnya kasus kematian akibat DBD.
“Jangan sampai, sibuk mengurus Covid-19, tapi melupakan bahaya nyata tren meningkatnya kasus DBD,” kata Nabil ketika dihubungi pada Jumat, 13 Maret 2020.
Politisi PDI Perjuangan ini mengatakan di antara penyebab banyaknya angka kematian akibat DBD, selain kurangnya program berkelanjutan, juga minimnya prasarana obat-obatan untuk menangani pasien. “Semoga kita semua diberikan kesehatan dan terhindar dari bencana virus corona dan meningkatnya kasus DBD ini. Amin,” ucapnya.
JUNIUS MANURUNG

Editor      :
Reporter :