Siti Fadilah Supari Bicara Namru dan Ancaman Bioterorisme

Siti Fadilah Supari Bicara Namru dan Ancaman BioterorismeMantan Menkes Siti Fadilah Supari Foto: tribunews

KEADILAN- Indonesia belum memiliki kesiapan dalam menghadapi ancaman biologi. Sejauh ini laboratorim khusus untuk menangkal ancaman biologi,  belum ada.

Hal ini diungkaopkan mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari terkait kesiapan Indonesia menghadapi ancaman Biologi di Jakarta, Senin (13/2021).

Di Indonesia, kata Siti, sebenarnya pernah berdiri Laboratorium Namru milik Angkatan Laut Amerika Serikat. Namun laboratorium riset ancaman biologi tersebut tidak memberikan manfaat sehingga dibubarkan Pemerintah RI pada tahun 2008.

Laboratorium Namru didirikan pada tahun 1970-an. Meski bercokol sekitar 30 tahun, keberadaan laboratorium di Jl Percetakan Negara Jakarta Pusat dianggap belum memberikan sumbangan bagi Indonesia dalam menghadapi ancaman biologi.

Menteri Kesehatan tahun 2004-2009 ini menegaskan,  Indonesia tidak memperoleh banyak manfaat dari Laboratorium Namru. “Menurut saya manfaatnya jauh lebih kecil dibandingkan kerugiannya sebagai negara merdeka,” katanya.

Jika pun Namru masih ada, lanjut dia, sumbangannya terhadap pencegahan pandemi Covid-19 tidak signifikan. Sebab, sejauh ini hasil-hasil penelitian Laboratorium Namru tidak diserahkan ke Indonesia.

“Indonesia bingung menghadapi pandemi bukan karena tidak ada Namru, tetapi memang karena bingung sendiri tidak mengira pandemi separah ini,” nilai Fadilah.

Menurut dokter spesialis jantung ini, Indonesia mengalami kemunduran dalam penanganan ancaman biologi.

Sebelumnya Badan Intelejen Negara (BIN) pernah memiliki Divisi Nubika (Nuklir, Biologi, dan Kimia) yang mengurus ancaman biologi. Sayangnya Divisi Nubika ini dibubarkan.

“Saya sendiri tidak tahu kenapa dibubarkan,” ujar Fadilah.

Siti Fadilah sendiri dikenal sebagai Menteri Kesehatan yang berhasil menangani ancaman biologi. Pada eranya, flu babi dan flu burung berhasil dicegah untuk tidak berkembang menjadi pandemic.

“Dulu saya bekerja sama dengan BIN. Untuk menghadapi ancaman biologi, Indonesia membutuhkan sistem perlindungan yang komprehensif bagi rakyat semesta. Dengan demikian negeri ini siap menghadapi pandemi apapun,” terang anggota Dewan Pertimbangan Presiden periode 2010-2014.

Untuk menghadapi ancaman biologi, sambung Siti Fadilah, Indonesia harus memiliki wadah, sumber daya manusia, alat-alat dan perangkat lain. Misalnya, perlu dibentuk satgas bencana kesehatan.

“Banyak yang harus dibangun, kita belum punya apa-apa,” cetus alumnus Fakultas Kedokteran UGM ini.

Ancaman biologi, lanjut Siti Fadilah, sangat nyata di masa depan. ‘Indonesia harus segera berbenah  mengantisipasi bioterorisme pada masa yang akan datang.

Di level dunia ada sejumlah laboratorium yang mempelajari ancaman biologi seperti Laboratorium Wuhan Tiongkok dan Laboratorium Fort Detrick Amerika Serikat. Semestinya laboratorium tersebut bekerja sama agar pandemi bisa dicegah.

Laboratorium Fort Detrick adalah laboratorium milik Angkatan Darat Amerika Serikat, terletak di Maryland. Laboratorium ini mempelajari material menular mematikan seperti Ebola dan Cacar. Laboratorium Fort Detrick ditutup pada 19 Agustus 2021. Penutupan ini sempat mengundang perhatian publik dan mempertanyakan kaitannya dengan Covid-19 yang muncul pada akhir 2019.

“Tetapi anda dan saya adalah orang-orang yang tidak punya power untuk mengatur mereka,” kata Siti Fadilah.

Siti Fadilah berharap Indonesia harus berdaulat dalam memimpin pencegahan ancaman biologi. Hal itu akan terwujud jika pimpinan penanggulangan harus orang yang menguasai substansi pandemi.“Dengan demikian bisa membuat strategi yang scientifically sesuai dengan seharusnya,” jelasnya.

Dalam penanganan pandemi saat ini, Siti Fadilah menilai tidak ada kemajuan pemikiran ilmiah yang subsatansif. Semua kebijakan berdasar Standard Operating Procedure (SOP) sebelumnya.

Ia juga menyayangkan kerja sama antara ilmuwan, BIN, dan TNI secara substansial terkesan belum terbangun dengan baik. Indonesia seharusnya memiliki strategi sendiri.

“Perencanaan yang sudah dibuat secara normatif atas petunjuk WHO bisa dijalankan dengan strategi yang kita pastikan berdasarkan analisa data nasional yang valid,” pungkas Siti Fadilah Supari.

Darman Tanjung

Editor      :
Reporter :