Sidang Babi Ngepet: Terdakwa Menyebarkan Berita Bohong Karena Ingin Terkenal

Sidang Babi Ngepet: Terdakwa Menyebarkan Berita Bohong Karena Ingin TerkenalSidang babi ngepet dilakukan secara virtual di PN Depok. Foto: keadilan/RF

KEADILAN- Sidang terdakwa perkara babi ngepet digelar di Pengadilan Negeri Depok. Dari pantauan keadilan.id, sidang perdana ini sempat tertunda beberapa menit, karena terdakwa Adam Ibrahim tak muncul di layar monitor. Kemudian pukul 11.59 WIB Adam sudah terlihat di layar dengan mengenakan kaus warna hitam dan peci putih.

Sebelumnya Hakim Ketua M Iqbal Hutabarat meminta terdakwa  hadir langsung di PN Depok untuk mengikuti persidangan.

“Hadirkan terdakwa ke sini,” kata Iqbal kepada Jaksa Penuntut Umum di Ruang Sidang 1 Cakra, Selasa (14/9/2021).

JPU Putri Dwi Astrini lalu menginformasikan hal tersebut kepada Iqbal.

“Mohon izin Yang Mulia, terdakwa sudah hadir di zoom,” ujar Putri sambil menanyakan apakah sidang akan digelar secara daring atau tetap menunggu kehadiran terdakwa di ruang sidang.

” Ya hadirkan saja ke sini, asal tetap mematuhi protokol kesehatan,” jawab Iqbal.

Namun karena permintaan hakim  mendadak, JPU tidak bisa menghadirkan Adam, karena  aparat kepolisian kekurangan personel untuk mengantarkan terdakwa dari Polsek Sawangan ke PN Depok.

“Untuk menghadirkan Adam ke PN Depok dibutuhkan waktu tiga jam lagi,” kata jaksa.

Iqbal kemudian mulai melunak dan mengizinkan sidang perdana kali ini tanpa kehadiran di ruang sidang.

“Tapi untuk sidang berikutnya (terdakwa) dihadirkan secara offline,” kata Iqbal.

Sidang pun dilanjutkan dengan pembacaan dakwaab. JPU mendakwa Adam dengan Pasal 14 ayat (1) atau ayat (2) Undang- Undang Nomor 1 tahun 1946 tentang menyebarkan berita bohong.

“Terdakwa Adam Ibrahim dengan sengaja menyebarkan berita bohong yang menyebabkan keonaran di masyarakat,” ujar jaksa Putri saat membacakan surat dakwaannya.

“Sehingga dengan adanya berita bohong tersebut, akibat dan dampak yang ditimbulkan membuat masyarakat menjadi resah, gaduh dan tidak nyaman. Dan juga menciptakan pemikiran di masyarakat bahwa babi ngepet itu benar dan nyata,” sambungnya.

Jaksa mengungkap motif Adam merekyasa persitiwa babi ngepet di Depok, karena ingin tenar dan viral di media sosial.

“Bahwa dengan sengaja terdakwa menyiarkan berita atau pemberitahuan bohong mengenai rekayasa adanya babi jadi-jadian (babi ngepet) atau babi pesugihan tersebut maksud serta tujuan terdakwa adalah untuk mendapatkan ketenaran dan dikenal secara viral karena Terdakwa telah berhasil menangkap seekor babi jadi jadian (babi ngepet) atau babi pesugihan tersebut,” ungkap jaksa Putri.

Untuk diketahui, kasus rekayasa babi ngepet yang dilakukan oleh Adam Ibrahim terjadi pada April 2021di Kelurahan Bedahan, Kecamatan Sawangan, Kota Depok.

Kasus berawal saat Adam mengaku menangkap seekor babi yang diduga babi ngepet. Dia mengaku melakukan ritual khusus dengan nenanggalkan pakaian untuk menangkap babi tersebut.

Setelah diusut apa yang dikatakan Adam adalah berita bohong.

Pada 29 April 2021 akhirnya polisi menangkap Adam yang dikenal sebagai tokoh agama di kalangan warga setempat.

Rahmat Fauzi

Editor      :
Reporter :