Uang Suap Disamarkan Robin Sebagai Hasil Bisnis Konveksi

Uang Suap Disamarkan Robin Sebagai Hasil Bisnis KonveksiSidang lanjutan perkara suap penyidik KPK Stepanus Robin P.  Foto: keadilan/AG

KEADILAN- Mantan penyidik KPK Ajun Komisaris Polisi (AKP) Stepanus Robin Pattuju disebut meminta transaksi keuangan di bank untuk disamarkan sebagai bisnis konveksi.

Hal itu diungkapkan saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada KPK untuk terdakwa Robin, Maskur Husain dan Riefka Amelia.

Riefka awalnya mengakui, jika KTP miliknya dipinjam Robin untuk membuka rekening di Bank BCA.

“Saya dapat imbalan setelah diperintah, diberikan tunai Rp 2 juta dan ditransfer ke rekening suami saya Rp77,5 juta,” kata Riefka saat menjadi saksi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (20/9/2021).

Riefka bercerita, sekitar Juli 2020 dia diminta ibunya menuruti perintah kakaknya, Rizky Cinde Awaliyah yang merupakan teman dekat Robin, membuka rekening di Bank BCA.

Dia mengaku, tidak bertanya lebih lanjut rekening tersebut nantinya akan digunakan untuk apa. Meskipun, dia sudah mempunyai rekening tabungan lainnya.

Akhirnya Riefka tetap menuruti keinginan kakaknya yang disampaikan lewat ibunya  membuka rekening.

“Saya buka (rekening) di Bank BCA cabang pembantu Pondok Gede atas nama saya,” jelas Riefka.

Setelah rekening dibuat, kartu ATM itu diserahkan kepada kakaknya untuk diserahkan kepada Robin. Reifka juga membuat layanan aplikasi mobile banking atau m-banking agar memudahkan transaksi keuangan.

“Yang melakukan transaksi Robin. Ada beberapa yang lewat m-banking juga, kalau m-banking itu saya yang transaksi atas perintah terdakwa,” jelas Riefka.

Riefka menjelaskan, jika setiap transaksi keuangan lewat m-banking disamarkan dengan pembelian barang konveksi. Perintah itu, kata Riefka, datang dari Robin yang disampaikan lewat kakaknya.

Hal itu dilakukan untuk menghindari pertanyaan bank terkait dengan transfer yang nominalnya cukup besar. Meski begitu, Riefka tidak menanyakan kebenaran usaha itu.

“Saya kurang tahu apakah ada usaha konveksi atau tidak,” ungkap Riefka.

Setelah sempat digunakan transaksi, Riefka mengaku diminta kakaknya untuk memblokir rekeningnya pada 21 April 2021. Lalu Riefka menelepon call center BCA untuk memblokir rekening dengan alasan kartu ATM hilang.

Selain itu, Riefka juga diminta meninggalkan rumah tinggalnya untuk sementara. Tapi yang memberi perintah bukan kakaknya.

“Saya di-chat oleh Dewa, saya kurang tahu siapa, tapi dia hanya chat sekali untuk pergi dahulu meninggalkan rumah begitu saja,” pungkas Riefka.

Diketahui, Stepanus Robin Pattuju didakwa telah menerima suap sebesar Rp11.025.077.000 dan 36.000 dolar AS atau setara Rp513 juta dari berbagai pihak terkait penanganan perkara di KPK.

Jika ditotal, Stepanus Robin menerima suap Rp11,5 miliar. Uang tersebut, diterima Robin bersama-sama dengan rekannya seorang pengacara, Maskur Husain.

Jaksa menguraikan, uang tersebut berasal dari Wali Kota nonaktif Tanjungbalai, M Syahrial sebesar Rp1,69 miliar. Kemudian, sejumlah Rp 3 miliar dan 36.000 dolar Amerika dari Wakil Ketua DPR RI asal Golkar Azis Syamsuddin dan mantan Ketua PP Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG), Aliza Gunado.

Selain itu, Robin juga disebut menerima Rp507 juta dari mantan Wali Kota Cimahi, Ajay Muhammad Priatna dan senilai Rp5,1 miliar dari bekas Bupati Kutai Kartanegara, Rita Widyasari. Stepanus juga disebut menerima uang dari Direktur PT Tenjo Jaya, Usman Effendi, sebesar Rp525 juta.

Sebagian uang yang diterima Robin dan Maskur, dikirim lewat rekening Riefka Amalia.

Ainul Ghurri

Editor      :
Reporter :