Pelintas Batas Itu Telah Pergi

Pelintas Batas Itu Telah Pergi
Anggota DPD-RI Sabam Sirait. Foto: istimewa

Pdt Gomar Gultom, Ketua Umum PGI

BANGSA ini kehilangan salah seorang putra terbaiknya, atas berpulangnya Sabam Sirait pada Rabu malam (29/09) pukul 22.37 WIB, setelah sekitar dua bulan dirawat intensif di RS Siloam Karawaci.

Saya mengenang beliau sebagai seorang yang mampu hadir sebagai ‘Imam’ di tengah carut marut perpolitikan bangsa. Seorang politisi senior yang konsisten dengan komitmen politiknya untuk menegakkan demokrasi dan memperjuangkan aspirasi rakyat.

Untuk kedua hal ini, beliau tak kenal lelah dan juga tak kenal takut. Masyarakat politik Indonesia sempat menjulukinya “Mr Interupsi”.

Betapa tidak, di masa pemerintahan orde baru yang hegemonic itu, dia pernah menginterupsi persidangan MPR-RI, sesuatu yang sangat mengejutkan ketika itu. Kita sama mengetahui bahwa ketika itu berlaku pameo mufakat dulu baru musyawarah untuk MPR, sehingga agenda persidangan selalu bak prosesi yang sudah diatur alur percakapannya, bak Soeharto dan kelompencapir-nya.

Itulah Bang Sabam, politisi tiga jaman. Mulai dari masa Orde Lama, Orde Baru hingga Reformasi. Ia menyediakan diri berjuang menegakkan demokrasi, apapun taruhannya.

Sebagai politisi di tengah kemajemukan masyarakat Indonesia, ia menolak menyembunyikan kesaksian iman-nya sebagai seorang Kristiani.
Pada saat yang sama, ia juga menolak untuk membatasi karya perjuangan iman hanya lewat lembaga gerejani.

Baginya, karya dan kehadiran iman Kristiani bermakna terlalu luas. Sehingga tak harus dibatasi oleh tembok-tembok gereja. Dia adalah seorang pelintas batas, yang mampu menembusi sekat-sekat perbedaan.

Ketika seorang pendeta mengeluh padanya tentang fenomena penutupan gereja, dengan tegas ia berkata, “Lho, ketika kasus Talangsari dan Tanjung Priok banyak umat muslim terbunuh, dimana kalian?”.

Sekalipun ia berkata demikian, tetap saja keluhan pendeta itu ditindak-lanjutinya. Ia pun bersuara keras menentangi praktik Orba yang sempat mensensor khotbah-khotbah Jumat di masjid.

Sebagai pelintas batas, ia tidak hanya berjuang bagi tegaknya demokrasi dan kemanusiaan di Indonesia, tapi juga di mancanegara.
Ia sangat kuat mendukung kemerdekaan negara Palestina, dan kukuh menolak untuk berkunjung ke Israel.

Dalam berbagai kesempatan, ia dengan lantang membela perjuangan rakyat Irak untuk menegakkan kedaulatan mereka, seraya mengecam keras serangan Amerika atas Irak.

Bang Sabam yang bisa garang menentangi berbagai kebijakan presiden, tetapi dalam kapasitas-nya sebagai Ketua Badan Kerjasama Antar Parlemen. Ia senantiasa sedia dan mampu menjelaskan sikap serta langkah yang ditempuh pemerintah Indonesia dalam menangani berbagai tuduhan kasus pelanggaran HAM di beberapa forum internasional.

Tidak mudah menjadi politisi dewasa ini, terutama di tengah carut marut penyelenggaraan negara kita saat ini, dimana seolah seseorang hanya bisa bertahan kalau ikut melacurkan diri dalam praktik-praktik koruptif dan manipulatif.

Ketika kebanyakan birokrat dan politisi kita saat ini yang seharusnya menjadi tuntunan malah berganti menjadi tontonan.
Tetapi, justru di tengah kondisi seperti itu, Bang Sabam mampu menampilkan kiprah politik yang elegan sehingga orang dapat mengaminkan ungkapannya “Politik itu Suci” di tengah skeptisisme masyarakat atas dunia perpolitikan kita.

“Kita harus mampu mengedepankan kehadiran kita sebagai ‘garam dan terang’ dunia. Perlu banyak berbuat tetapi tidak perlu pamer. Janganlah tangan kirimu tahu apa yang dilakukan oleh tangan kananmu.”, demikian beberapa kali dikatakannya.

Maka tak heran kalau pemerintah menganugerahkan Bintang Mahaputra Utama kepadanya, meski saya tak yakin, Bang Sabam mengharapkan itu dari sepak terjang dan pengabdiannya.

Anugerah itu, saya kira, hanya penegasan saja atas karya imani seorang Sabam Sirait. Saya tak percaya, kiprah beliau selama ini menuntut suatu pengakuan atau penghargaan dari negara; pastilah perjuangannya selama ini tidak dalam rangka menuntut balas.

Semua dilakoninya sebagai bagian dari kesaksiannya dalam memberitakan Kasih Allah akan dunia.

Sekarang pelintas batas itu telah pergi. Tapi dia meninggalkan begitu banyak jejak dalam perjalanan bangsa Indonesia. Dia pun meninggalkan jejak yang dalam di tubuh HKBP, yang dia sebut sebagai agamanya, dan tentu dalam diri GMKI dan PGI.

Salemba Sepuluh telah menjadi rumah kedua baginya, dimana ia telah menjadi sumber inspirasi bagi kader-kader gereja.

Selamat jalan, Bang Sabam! Engkau akan tetap hidup dalam memori-memori kami.

 

Editor      :
Reporter :