Sidang RJ Lino, Saksi Ungkap Pengadaan Crane Tak Memenuhi Syarat

Sidang RJ Lino, Saksi Ungkap Pengadaan Crane Tak Memenuhi Syarat
Senior Manager Peralatan Pelindo II Haryadi Budi Kuncoro menjadi saksi kasus Pelindo II. Foto: keadilan/AG

KEADILAN- Jaksa Penuntut Umum dari KPK, menghadirkan saksi Senior Manager Peralatan Pelindo II Haryadi Budi Kuncoro dalam sidang lanjutan kasus dugaan korupsi pengadaan tiga unit Quay Container Crane (QCC) dengan terdakwa Richard Joost (RJ) Lino.

Dalam kesaksiannya, Haryadi menyebutkan bahwa keputusan PT Pelindo II saat dipimpin RJ Lino dalam pengadaan tiga unit QCC twin lift mengakibatkan penurunan spesifikasi.

Menurutnya, spesifikasi QCC dalam pengadaan tersebut masih mengacu pada tipe single lift yang sebelumnya dibatalkan.

“Pada kenyataannya, kita masih memakai vendor list yang sama dengan single lift, pada saat itu saya anggap menurunkan (spesifikasi). Yang berubah brand-nya dari Caterpillar ke Cummins untuk engine,” ujar Haryadi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (6/10/2021).

Penurunan spesifikasi itu antara lain terjadi pada mesin, rem, main lift, gear box, dan tali baja. Pada 2010, Pelindo menunjuk langsung perusahaan Tiongkok Wuxi Hua Dong Heavy Machinery Science and Technology Group Co Ltd.

Meski spesifikasi QCC twin lift diturunkan, Pelindo II tetap melanjutkan pengadaan tersebut. Ia mengaku, melaporkan hal tersebut ke Direktur Operasi dan Teknik Pelindo II Ferialdy Norlan. Kemudian, Ferialdy mendapat persetujuan dari Lino melalui nota dinas tertanggal 25 Maret 2010.

“Dari Diroptek (Direktur Operasional dan Teknik) dilaporkan ke Dirut, baru ada disposisi seperti itu. Disposisi itu saya dapat informasi secara lisan dari Kepala Biro Pengadaan, waktu itu (yang menjabat) Pak Wahyu,” terangnya.

Sebelum melakukan pengadaan QCC twin lift, Pelindo II sebenarnya menunjuk HDHM, ZPMC, serta Doosan terkait pengadaan QCC single lift.

Dari perusahaan yang diusulkan ketiganya memasukkan penawaran. Dalam perjalanannya, Doosan mengundurkan diri.

“Sejauh yang saya ingat, kalau Doosan tidak menyampaikan karena mereka lagi ada masalah. Jadi mereka memindahkan pabrik dari Lampung ke Vietnam. Mereka enggak siap,” tuturnya.

Haryadi mengatakan, HDHM dan ZPMC sebenarnya tidak memenuhi syarat dalam pengadaan QCC single lift. Hal itu terungkap dalam berita acara pemeriksaan (BAP) yang dibacakan oleh Jaksa KPK Wawan Yunarwanto yang kemudian dibenarkan Haryadi.

Dalam BAP dikatakan bahwa atas hasil evaluasi teknis yang dilakukan oleh staf Haryadi, di mana hasilnya baik sebelum maupun sesudah klarifikasi, kedua perusahaan tersebut dinyatakan tidak lulus dalam evaluasi teknis.

Diketahui, perkara pengadaan QCC twin lift itu terjadi dalam kurun waktu 2009 sampai 2011.

Atas perkara tersebut, Lino didakwa merugikan keuangan negara sampai US$1,997 juta dari proses pengadaan maupun pemeliharaan tiga unit QCC twin lift di tiga pelabuhan, yakni Pelabuhan Panjang, Pelabuhan Palembang, dan Pelabuhan Pontianak.

Editor      : Darman Tanjung
Reporter : Ainul Ghurri