Menyembunyikan Nurhadi, Ferdy Yuman Divonis 4 Tahun Penjara

Menyembunyikan Nurhadi, Ferdy Yuman Divonis 4 Tahun Penjara
Terdakwa Ferdy Yuman berkonsultasi dengan kuasa hukum usai pembacaan vonis pengadilan Tipikor Jakarta. Foto: keadilan/AG

KEADILAN- Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Jakarta menghukum terdakwa Ferdy Yuman empat tahun penjara dan denda Rp150 juta subsider tiga bulan kurungan.

Ferdy diyakini hakim terbukti merintangi penyidikan KPK terkait perkara mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi dan menantunya Rezky Herbiyono.

Hal itu sebagaimana dalam Pasal 21 Undang-Undang (UU) Tipikor yang menyatakan, “Setiap orang yang dengan sengaja mencegah, merintangi, atau menggagalkan secara langsung atau tidak langsung penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan terhadap tersangka dan terdakwa ataupun para saksi dalam perkara korupsi, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 tahun dan paling lama 12 tahun dan atau denda paling sedikit Rp150 juta dan paling banyak Rp600 juta.”

“Mengadili, menyatakan terdakwa Ferdy Yuman terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum bersalah melakukan tindak pidana dengan menghalangi penyidikan perkara korupsi,” ucap Hakim Ketua Saifuddin Zuhri di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jakarta Pusat, Senin (11/10/2021).

Dalam uraiannya, Ferdy merupakan sepupu terpidana Rezky Herbiyono dan orang kepercayaan Rezky dan bertugas mengurusi kebutuhannya.

“Terdakwa digaji tinggi Rp10 juta sampai Rp20 juta per bulan,” ujar hakim Sukartono.

Hakim menjelaskan, ketika Nurhadi dan Rezky menjadi tersangka KPK dan berpindah-pindah tempat selama tiga bulan. Bahkan Ferdy diminta mencari kebutuhaan sehari-hari Nurhadi dan Rezky.

Selama mendapatkan tempat rumah, terdakwa tidak pernah melaporkan kepindahan itu kepada Ketua RT setempat, agar keberadaan Rezky dan Nurhadi tidak diketahui. Bahkan Ferdy sengaja berbohong kepada pemilik rumah agar mereka tidak diketahui.

Penyidik kemudian mendapatkan info keberadaan Rezky dan Nurhadi di sebuah rumah Simprug, Jakarta Selatan. Lalu, pada 1 Juni rumah digeledah penyidik.

“Saat itu, terdakwa sudah bersiap-siap di depan rumah pakai mobil Fortuner dengan kondisi mesin menyala sebagai upaya melarikan Nurhadi dam Rezky. Tapi dia lihat mobil penyidik mendekat dan kabur,” ungkap Hakim.

Karena tidak terkejar, penyidik balik lagi ke rumah tersebut dan menemukan Nurhadi bersembunyi di salah satu kamar dan Rezky bersembunyi di kamar lainnya.

Selain itu, penyidik juga melihat bekas puntung roko terdakwa dan handphonenya di salah satu kamar.

Dari rangkaian fakta di atas, dilakukan terdakwa dengan maksud agar Nurhadi dan Rezky selaku tersangka tidak diketahui keberadaannya dan untuk menghindari hukum.

Hakim berkeyakinan, terdakwa mengetahui Rezky dan Nurhadi sedang ada masalah hukum dengan KPK yakni sebagai tersangka dan Daftar Pencarian Orang (DPO).

“Terdakwa sadar niatnya memang ingin melindungi Rezky dan Nurhadi dari penangkapan KPK,” timpal hakim Duta Baskara.

Dalam pertimbangannya, hal yang memberatkan terdakwa tidak membantu program pemerintah dalam memberantas korupsi, berbelit-belit dan tidak mengakui perbuatannya.

Sedangkan hal yang meringankan, selama persidangan terdakwa berlaku sopan belum pernah dihukum, dan seorang kepala keluarga.

Editor      : Darman Tanjung
Reporter : Ainul Ghurri