Pieter Rasiman Sebut Uangnya Masih di Asabri Rp5,7 Triliun

Pieter Rasiman Sebut Uangnya Masih di Asabri Rp5,7 Triliun
Pieter Rasiman menjadi saksi di persidangan Asabri. Foto: keadilan/DS

KEADILAN- Terpidana Dirut PT Himalaya Energi Perkasa, Pieter Rasiman dihadirkan sebagai saksi dalam persidangam perkara dugaan korupsi di PT Asabri. Ia  mengaku diminta oleh terdakwa Heru Hidayat untuk membeli sejumlah saham PT Asabri pada pertengahan 2016 silam.

“Untuk transaksi yang di Asabri saya masih menagih (uang) kepada Pak Heru sekitar Rp5,7 atau Rp5,8 triliun. Itu jumlah tagih,” ucap Pieter di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (11/10/2021).

Pieter menjelaskan, awalnya Heru meminta dirinya untuk membantu restrukturisasi di Asabri yang memiliki portofolio yang saat itu sedang mengalami minus.

“Dan itu dijanjikan (Heru) akan dikembalikan dalam waktu 2,5 tahun. Cuma jawaban Heru, saya diminta bersabar karena Asabri masih melakukan penagihan dan belum berhasil,” tutur Pieter.

Permintaan Heru memang dimanfaatkan Pieter. Walaupun tidak menguntungkan secara nominal. Namun, ia sangat berharap saham perusahaannya bisa berada di Asabri.

Karena menurutnya, hal itu bisa meningkatkan kepercayaan nasabahnya, sehingga perusahaan tradingnya akan semakin meningkat.

Namun sayangnya, Pieter tidak mengenal satu pun direksi-direksi dari Asabri. Sehingga ia hanya percaya kepada Heru.

“Karena melalui Heru, ya saya tagihnya lewat Heru,” ujarnya.

Menurut dia, kepercayaannya terhadap Heru waktunya fluktuatif, Heru memastikan uang kerugian itu akan balik lagi. Selain itu, Pieter juga percaya bahwa Asabri merupakan perusahaan asuransi BUMN yang besar.

“Siapa yang tidak kenal Asabri. Saya percaya kalau saham-saham yang lama dari Asabri ini tidak ada yang menolak. Kalau Asabri menagih kepada saham-saham yang lama, pasti akan dikembalikan. Itu yang saya percaya,” terangnya.

“Pikiran saya saat itu, kalau saham saya menjadi portofolio dari PT Asabri, otomatis masyarakat akan percaya. ‘Oh Asabri saja kepincut sama saham saya’ jadi saya yakinnya di situ,” sambungnya.

“Adakah pembicaraan oleh terdakwa Heru?,” tanya hakim Rosmina.

“Ada, yang disampaikan ke saya adalah harga-harga saham yang minus. Itu saya beli dengan harga perolehan harga pada saat dibeli Asabri,” jawab Pieter menimpalinya.

Proses restrukturisasi terhadap Asabri belum membuahkan hasil, justru nasib Asabri makin terperosok ke jurang. Bahkan pada 2019 ia sudah diminta untuk buy-back saham-saham miliknya sendiri.

Atas kejadian itu, perusahaannya mengalami kerugian sebesar Rp4,7 triliun.

“Secara keseluruhan saya punya tanggungan nasabah rutin sebesar Rp4,7 triliun. Jadi, total saham saya rugi Rp4,7 triliun,” ungkapnya.

Meskipun begitu, ia menyadari bahwa kerugiannya itu terjadi akibat efek dari kasus Jiwasraya. Sehingga pasar bursa saham pun mengalami penurunan.

“Itu adalah risiko Yang Mulia,” tutupnya.

Editor      : Darman Tanjung
Reporter : Ainul Ghurri