Tumpukan Dokumen dan BAP Berjejer di Ruang Sidang Perkara Asabri

KEADILAN- Setumpuk dokumen dan bukti data berjejer di belakang tempat duduk Jaksa Penuntut Umum (JPU). Begitu pula berkas berita acara pemeriksaan (BAP) bertumpuk di belakang majelis hakim.

Berkas dan tumpukan dokumen tersebut untuk dibacakan serta dibuktikan oleh JPU dan majelis hakim kepada para terdakwa PT Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Asabri) dan para saksi.

Meskipun persidangan para terdakwa Asabri dilakukan secara terpisah, berkas BAP dan dokumen itu selalu disiapkan menjelang persidangan dimulai.

Setelah persidangan selesai, setumpuk dokumen itu dibawa pulang ke Kejaksaan Negeri Jakarta Timur dengan menggunakan mobil boks. Lain halnya dengan berkas BAP yang selalu ada di belakang majelis hakim.

“Kita selalu bawa dokumen perkara Asabri ini, karena terdakwa dan saksinya banyak. Tapi kalau sidang sudah selesai, dokumen itu kami bawa pulang lagi,” kata jaksa Tumpal Pakpahan kepada keadilan.id.

Demi keamanan dokumen tersebut, setiap sidang rehat, JPU selalu meminta kepada para pengunjung untuk keluar ruang persidangan.

Diketahui, dalam perkara Asabri, majelis hakim meminta kepada JPU dan penasihat hukum terdakwa agar menghadirkan saksi sebanyak 20 orang sekaligus.

“Untuk menghemat waktu, saya minta 20 orang saksi, karena para penasihat hukum menginginkan persidangan secara terpisah,” pinta Hakim Ketua Ignatius Eko Purwanto di Pengadilan Tipikor Jakarta.

Dua puluh saksi itu dihadirkan dari Senin hingga Kamis. Dengan begitu, persidangan perkara Asabri dilakukan secara maraton.

Sementara ini, saksi yang dihadirkan hanya dari JPU. Setelah itu dari pihak terdakwa ataupun penasihat hukumnya.

Persidangan ini juga terbilang cukup ketat. Sebab selain wartawan, para pengunjung dilarang mengambil video dan gambar untuk didokumentasikan.

Beberapa kali, majelis hakim menegur kepada para pengunjung untuk tidak mengambil gambar maupun video. Bahkan hakim ketua sudah mengusir pengunjung yang ketahuan mengambil foto dan membagikan foto persidangan kepada orang lain tanpa seizin pihak pengadilan.

Editor      : Darman Tanjung
Reporter : Ainul Ghurri