Catut KTP Orang Lain, Polisi Bekuk Pelaku Transaksi Fiktif Pinjol

Catut KTP Orang Lain, Polisi Bekuk Pelaku Transaksi Fiktif Pinjol
Ilustrasi foto Pinjaman Online Ilegal dalam Instagram. Foto: Instagram@ojkindonesia

KEADILAN- Polda Metro Jaya menangkap dua pria inisial UA dan SM yang mencatut ribuan data KTP warga. Ribuan data KTP yang telah didapatkan itu kemudian didaftarkan di aplikasi finance technology Homecredit.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus mengatakan, dua pelaku tersebut membeli ribuan data KTP itu lewat aplikasi Telegram. Keduanya membeli ribuan data tersebut seharga Rp 7,5 juta.

“Pertama-tama dia membeli data dulu Dengan foto selfie pegang KTP seseorang lewat akun telegram yang ada. Dia DPO akun telegram Raha. Masih kami profiling akunnya. Kemudian akun ini dikenal oleh UA melalui akun Facebook. Dia beli harga Rp 7,5 juta untuk status dan data pribadi berupa selfie bagi pemegang KTP,” kata Yusri di Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (13/10/2021).

Yusri memaparkan, usai  mendaftarkan data KTP yang telah dibeli di Homecredit, pelaku kemudian melakukan pembelian sejumlah barang lewat aplikasi Tokopedia.

Dari hasil pemeriksaan diketahui, pelaku menjalankan aksinya sejak  Juni 2021. Sejauh ini tercatat ada 150 data fiktif yang berada di Homecredit.

“Jadi, setelah dapat data dan foto KTP di akun Telegram Raha pelaku pakai untuk belanja di Tokopedia dengan spesialis beli handphone dan koin emas 5 gram,” terang Yusri.

Usai mendapatkan barang-barang tersebut kedua pelaku kemudian menjual kembali lewat media sosial. Keduanya menjual barang-barang tersebut dengan harga lebih murah 10 hingga 20 persen dari harga beli.

“Sistem pembagian keuntungannya itu UA dapat 90 persen keuntungan dan tersangka SM dapat 10 persen,” jelas Yusri.

Akibat perbuatan pelaku, pihak Homecredit merasa dirugikan. “Nama KTP asli enggak pernah merasa pesan barang. Jadi identitas dicuri untuk beli barang di Tokped dengan fasilitas bayar di Homecredit,” beber Yusri.

Hingga saat polisi mencari keberadaan Raha yang menjual ribuan data  tersebut. Kedua tersangka UA dan SM, kini dijerat dengan Pasal 30 Juncto Pasal 46 atau Pasal 32 UU ITE serta Pasal 378 KUHP tentang penipuan dengan ancaman penjara 12 tahun.

Editor      : Darman Tanjung
Reporter : Darman Tanjung