Kepala Staf Calon Panglima TNI Harus Sesuai Persyaratan UU, Loyal Terhadap Presiden dan Panglima TNI

Kepala Staf Calon Panglima TNI Harus Sesuai Persyaratan UU, Loyal Terhadap Presiden dan Panglima TNI
Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto

Jakarta – Hiruk pikuk pergantian panglima TNI kian panas. Berbagai pihak saling menjagokan siapa yang layak menjadi panglima TNI, pasca Marsekal Hadi Tjahjanto pensiun. Apalagi ada yang menyebut pengganti Hadi Tjahjanto harus mutlak memiliki prestasi dan pengalaman akademik.

Pengamat politik dari Universitas Al Azhar Jakarta, Ujang Komarudin mengakui, kecerdasan akademik memang penting untuk calon panglima TNI. Namun kecerdasan akademik bukanlah satu-satunya seseorang bisa sukses dan mampu memimpin suatu organisasi dalam hal ini TNI.

“Dalam konteks pemilihan Panglima TNI itu, yang terpenting adalah Kepala Staf calon Panglima TNI memenuhi persyaratan UU. Dan loyal terhadap Presiden serta Panglima TNI. Kalau bisa berpendidikan tinggi, kalau tidak pun ya tak masalah,” ujar Ujang Komarudin di Jakarta, Selasa (12/10/2021).

Direktur Indonesia Politican Review menegaskan, menjadi panglima TNI para Kepala Staf selain harus loyal pada Presiden juga harus mampu mensejahterakan para prajurit dan juga bisa menjaga NKRI dari berbagai rongrongan dengan penuh wibawa.

“Selain itu calon panglima TNI harus berintegritas, diterima di internal dan rakyat Indonesia,” tandasnya.

Ujang menyebut, Panglima TNI ke depan tidak boleh arogan. Oleh karena itu panglima TNI harus bersama-sama dengan rakyat menjaga NKRI. Apalagi saat ini di Papua masih sering terjadi gejolak. Oleh karenanya TNI mesti bisa mengatasinya agar NKRI bisa tetap utuh.

“Lalu juga tantangan ke depan itu perang cyber. Ini yang perlu diantisipasi dan diperkuat,” tandasnya.

Terkait siapa sosok yang bisa memenuhi syarat itu, dengan diplomatis Ujang mengatakan, “Tentu yang tahu itu Presiden. Hak Prerogatif beliau. Biar Presiden yang memilih dan menentukan,”

Terpisah, Pengamat Pendidikan Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, Jejen Musfah mengatakan, kecerdasan intelektual harus diimbangi dengan kecerdasan emosional dan spiritual. Dua kecerdasan terakhir atau karakter menuntun individu untuk melakukan hal-hal baik, dan menghindari hal-hal buruk.

“Kurikulum Indonesia menitipkan peran pengembangan karakter pada mata pelajaran (mapel) agama dan PKN dan semua mapel pada umumnya,” jelasnya.

Jejen menegaskan, tujuan pendidikan dalam UU Sisdiknas adalah melahirkan manusia yang berakhlak dan beriman disamping cerdas dan terampil. Tak ada korelasi nya antara prestasi akademik dan pendidikan tinggi dengan etika serta rasa kemanusiaan. Hal mana tergambar secara tragis pada kasus predator seksual Renhard Sinaga di Kota Manchester, Inggris. Dengan pendidikan manusia seutuhnya, diharapkan mampu mencetak manusia yang berakhlak dan beriman. Maka lebih lanjut diharapkan kasus seperti Renhard Sinaga, peraih gelar master dua kali dan calon doktor di Inggris yang menjadi pelaku kekerasan seksual sesama jenis di Inggris tidak terjadi lagi.

Editor      : Syamsul Mahmuddin
Reporter :