Saksi Ahli Sebut Pelindo II Tertipu 

Saksi Ahli Sebut Pelindo II Tertipu RJ Lino mengikuti persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Foto: ANTARA

KEADILAN – Jaksa Penuntut Umum pada KPK menghadirkan dua saksi ahli dari Institute Teknologi Bandung (ITB) dalam sidang lanjutan perkara dugaan korupsi pengadaan tiga unit Quay Container Crane (QCC) di Pelindo II tahun 2009-2011 dengan terdakwa mantan Dirut Pelindo II, Richard Joost Lino alias RJ Lino.

Dua orang saksi ahli itu adalah Ignatius Pulung Nurprasetyo dan Rachman Setiawan. Dalam keterangannya, keduanya mengungkapkan bahwa PT Pelindo II terkena tipu oleh perusahaan China, yakni Wuxi Hua Dong Heavy Machinery Science and Technology Group Co Ltd (HDHM). Lantaran tiga unit QCC yang dibeli tidak sesuai kontrak.

Menurut ahli, dari hasil investigasi yang dilakukannya pada tiga pelabuhan tersebut menyimpulkan, terdapat 102 item pengadaan tiga unit QCC yang tidak memenuhi syarat atau spesifikasi teknik yang tetap diterima oleh pihak Pelindo II dan tidak sesuai kontrak.

Menurut Ignatius, tiga unit QCC itu dapat berfungsi dengan baik dan item tidak mempengaruhi fungsi. Tetapi, kondisi tersebut berpengaruh pada harga.

“(Perbedaan) yang ditemukan tidak mempengaruhi fungsinya, namun berpengaruh dalam penghitungan harga,” kata Ignatius di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (27/10/2021).

Selain melakukan investigasi di lapangan, Ignatius juga melakukan penelusuran harga di internet dengan membandingkan produk sejenis di e-commerce negara asal yakni China. Kemudian dia melakukan penyelidikan atau investigasi dengan metode bertanya langsung ke produsen di China

Pada 2016, Ignatius diminta KPK melakukan investigasi terhadap pengadaan tiga unit QCC untuk tiga pelabuhan pada 2010 yakni, Pelabuhan Palembang, Pelabuhan Panjang, dan Pelabuhan Pontianak.

Dari tiga tempat itu, dia memeriksa fisik QCC dengan kontrak yang dibuat. Dari investigasi tersebut, Ignatius menemukan bahwa motor penggerak dan generator pada tiga unit QCC di setiap pelabuhan berbeda. Sehingga terdapat perbedaan dengan Harga Pokok Penjualan (HPP).

Menurut perhitungan dari tiga QCC tersebut, seharusnya HPP untuk QCC di Palembang 2,996 juta dolar AS. Pengadaan QCC di Pelabuhan Panjang 3,356 juta dolar AS dan di Pelabuhan Pontianak 3,314 juta dolar AS.

“Di Palembang tidak ada generator, kalau dilengkapi harus dua. Satu dipakai, satu cadangan. Ketika enggak ada generator, perubahan harganya menjadi signifikan,” ungkapnya.

Sementara itu, saksi ahli Rachman Setiawan menyebutkan, salah satu item yang mempengaruhi HPP adalah genset pada setiap QCC. Ketiga genset itu, dinyatakan tidak sesuai dan tidak dapat diterima karena yang disediakan lebih kecil dari seharusnya, yaitu 2×1.000 kilo wat. Kenyataannya, genset pada QCC di tiga pelabuhan hanya 2×880 kilo wat.

“Harusnya harganya akan lebih murah daripada yang dilengkapi dengan genset 2×1000 kilo wat,” jelas Rachman.

Bahkan, item terkait daya angkat QCC dari dasar ke posisi vertikal juga dikategorikan tidak sesuai. Sebab, waktu yang dibutuhkan untuk melakukan pengangkatan di lapangan mencapai 11 menit, padahal seharusnya 5 menit.

“Maka kita sebut dia tidak sesuai dengan spesifikasi,” kata Rachman.

Lebih lanjut, hasil investigasi yang dilakukan ahli ITB menyebutkan, ketiga QCC yang masing-masing berkapasitas 61 ton itu tidak pernah dilakukan pengujian berdasarkan standar Eropa, yaitu Federation Europeenne De La Manutention (FEM).

Standar FEM mengharuskan QCC dilakukan tes di pabrik dengan dua pengujian yaitu uji dinamis seberat 73,2 ton dan uji statik seberat 85,4 ton. Namun HDHM selaku produsen, tidak pernah melakukan pengujian tersebut.

“Kedua pengujian yang menurut standar FEM ini tidak pernah dilaksanakan untuk ketiga QCC tersebut,” ujar Ignatius.

Meski demikian, tim ITB menyimpulkan bahwa QCC yang dibeli Pelindo II dapat berfungsi memindahkan kontainer baik dari sisi laut ke sisi darat maupun sebaliknya.

Editor      : Darman Tanjung
Reporter : Ainul Ghurri