Sofyan Djalil Beberkan Alasan Angkat RJ Lino Jadi Dirut Pelindo II

Sofyan Djalil Beberkan Alasan Angkat RJ Lino Jadi Dirut Pelindo IIAinul Ghurri Menteri Sofyan A Djalil jadi saksi sidang pengadaan crane di PT Pelindo II. Foto: keadilan/AG

KEADILAN- Menteri BUMN periode 2007-2009, Sofyan Djalil membeberkan alasan menunjuk Richard Joost Lino (RJ Lino) sebagai Direktur Utama PT Pelindo II di tahun 2008.

Hal itu, ia ungkapkan saat menjadi saksi dalam sidang lanjutan kasus dugaan korupsi pengadaan 3 unit Quayside Container Crane (QCC) di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (3/11/2021).

Mantan Menteri BUMN era SBY ini menjelaskan, pada 2008 PT Pelindo II tengah dalam keadaan kritis terkait demurrage yang membuat pengadaan crane di sejumlah pelabuhan buntu.

Demurrage merupakan pengenaan biaya tambahan dari perusahaan pelayaran atau agen pelayaran terhadap penambahan waktu pemakaian atau pengunaan kontainer.

“Waktu itu Pelindo II dalam keadaan kritis terjadi misalnya demurrage, di Pontianak di Palembang, di Jakarta ini sudah berkali-kali ditender untuk crane tidak jalan. Jadi pertimbangan Pak Lino diangkat, saya cari profesional,” kata Sofyan di persidangan.

Sofyan menyebut, dirinya fokus mencari orang-orang dari kalangan profesional untuk ditarik BUMN. Menurutnya, sebagian besar masalah di BUMN bisa selesai bila kalangan profesional dilibatkan.

“Orang-orang mengatakan, saya punya keyakinan angkat orang yang bagus menjadi dirut, 80 persen masalah sudah selesai.  Yang 20 persen diselesaikan oleh dirut. Maka waktu saya (menjadi) menteri itu, saya mencari orang-orang terbaik di kalangan profesional,” jelas Sofyan.

Dia mengungkapkan bahwa dirinya sempat mewawancarai beberapa kandidat calon Dirut PT Pelindo II. Beberapa orang dari kalangan profesional yang telah diwawancarai itu belum memuaskan Sofyan.

“Saya belum puas. Tapi ada seseorang mengatakan ada orang Indonesia menjadi dirut perusahaan pelabuhan di China, dia katanya bekas orang Pelindo, namanya RJ Lino,” ujar Sofyan.

Sofyan kemudian, menghubungi RJ Lino dan menawarkan untuk ikut wawancara sebagai calon Dirut PT Pelindo II. Kala itu, RJ Lino kebetulan tengah berada di Jakarta.

“Datang beliau (RJ Lino), waktu wawancara itu ngomongnya banyak sekali, sampai saya bilang, ‘apa anda terlalu pintar atau saya terlalu bodoh?’,” ucap Sofyan.

Melihat kompetensi RJ Lino, Sofyan langsung memintanya untuk mengikuti fit and proper test. Tes itu dilakukan di kantor Kementerian BUMN.

“Akhirnya saya undang seluruh direksi Pelindo, seluruh komisaris Pelindo, perusahaan pelayaran, Menteri Perhubungan, Dirjen Perhubungan Laut, datang ke lantai 16 Kementerian BUMN, untuk fit and proper test beliau,” terang Sofyan.

Editor      : Darman Tanjung
Reporter : Ainul Ghurri