Terdakwa Babi Ngepet Dituntut 3 Tahun Penjara

Terdakwa Babi Ngepet Dituntut 3 Tahun PenjaraSidang pembacaan tuntutan perkara babi ngepet. Foto: keadilan/RF

KEADILAN- Jaksa Penuntut Umum Alfa Dera dan Putri Dwi Astrini menuntut terdakwa kasus hoaks babi ngepet, Adam Ibrahim dengan hukuman tiga tahun penjara.

Adam Ibrahim dinilai jaksa terbukti bersalah dengan melakukan tindak pidana penyebaran berita bohong yang menyebabkan keonaran di masyarakat.

“Memohon majelis hakim menjatuhkan pidana kepada terdakwa hukuman penjara selama tiga tahun,” kata Jaksa Alfa Dera, dalam pembacaan tuntutannya di Pengadilan Negeri Depok, Selasa (9/11/2021).

Jaksa meyakini perbuatan terdakwa telah melanggar Pasal 14 Ayat (1) dan (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana, yaitu secara sah dan meyakinkan telah melakukan tindak pidana, yakni penyiaran berita bohong yang menimbulkan keonaran di masyarakat.

Seharusnya, kata Alfa, Adam yang dipandang sebagai tokoh agama di kalangan setempat, seharusnya menjadi panutan.

Jaksa mengatakan bahwa tuntutan tersebut lebih ringan dari ancaman pidana 10 tahun, lantaran melihat Adam sebagai tulang lunggung keluarga.

“Bahwa terdakwa Adam Ibrahim, menyiarkan berita bohong dengan sengaja yang dapat menimbulkan keonaran di kalangan masyarakat,” tambah jaksa Putri.

Adam mengikuti sidang tuntutan kasus babi ngepet secara virtual dari Rutan Kelas 1 A Cilidong, Depok. Ia mendengarkan tuntutan yang dibacakan JPU melalui telekonferensi.

Adam yang menyebarkan isu babi ngepet sempat viral di media sosial April 2021, tentang video seekor babi hutan yang dimasukkan ke dalam kandang yang menjadi tontonan warga di Kelurahan Bedahan, Sawangan.

Ia terinspirasi melakukan aksinya dari kisah viral di media sosial dan telah menyiapkan aksinya selama satu bulan sejak Maret.

Adam Ibrahim mengakui rekayasa ini dibuat, supaya dirinya lebih terpandang sebagai tokoh kampung.

Atas tuntutan jaksa, salah satu kuasa hukum terdakwa menyatakan kliennya akan mengajukan pleidoi atau pembelaan secara tertulis pada sidang berikutnya.

 

Editor      : Darman Tanjung
Reporter : Rahmat Fauzi