Sulit Cari Ikan, Nelayan Anyer-Banten Menjerit

Sulit Cari Ikan, Nelayan Anyer-Banten MenjeritKarena sulit cari ikan, nelayan tidak melaut.

KEADILAN – Para Nelayan di Anyer Banten menjerit akibat sulitnya mendapatkan ikan yang merupakan mata pencaharian mereka sehari-hari. Kesulitan hidup akibat tak mampu berlayar karena disebabkan laut pasang, selain perahu-perahu mereka yang sudah berumur dan usang. Selain iti memang tak ada dukungan pemerintah bagaimana meningkatkan dan memoerbaiki taraf hidup mereka.

“Akibat laut pasang, ombak tinggi, kami stop melaut dulu, akibatnya hilang mata pencaharian kami, mengharapkan bantuan pemerintah sama aja menunggu hujan dilangit mas,” kata Ismail yang sudah bertahun-tahun menjadi nelayan kecil dengan perahu kayu, Minggu (14/11) kepada media ini.

Nasib Ismail juga dirasakan nelayan-nelayan lainnya, yang saat ini melabuhkan perahunya di dermaga kecil seputaran laut Anyer, Banten.

Ismail menuturkan, pemerintah cumanya cuma bisa pencitraan, mengurus nasib nelayan sedari dulu gak pernah mampu. “Bantuan gak pernah kami dapatkan, mungkin segelintir aja yang menerima bantuan, seperti perbaikan kapal, subsidi solar, atau renovasi kapal kami,” tuturnya.

Menurutnya sebagai nelayan kecil, ikan yang didapat tak cukup untuk menghidupi kehidupan ekonomi rumah tangganya, “ya cukup buat makan aka mas, sama ganti ongkos solar,” ujarnya. Itupun kadang ngutang sama tengkulak disaat hasil tangkapannya tak terpenuhi.

Hasil tangkapan para nelayan setempat, langsung dijual atau kalau sempat dilelang pagi hari, meskipub harga ikan tinggi, tetapi tidak dapat dinikmati para nelayan, karena keuntungan besar didapat tengkulak.

Misal kakap merah se ekor 1 kg dibeli dari nelayan 30 – 40 ribuan per ekor, sementara tengkulak menjual hingga 90 ribuan per ekor. Apalagi ikan-ikan kecil yang dijual borongan, per sekali melaut rerata nelayan hanya mendapatkan 300 sampai 400 rb rupiah, belum lagi ongkos melaut yang kadang jauh lebih tinggi sampai 500 ribuan per sekali jalan.

Belum lagi hasil tangkapan yang sudah diborong nelayan-nelayan besar yang tentunya juga menggunakan kapal-kapal besar dengan durasi melaut seminggu.

Nasib nelayan kecil dengan kapal klotok ini tak hanya dialami Ismail saja, tetapi tentu juga jutaan nelayan se Indonesia, dan disinilah peran negara harus hadir ditengah mereka, bukan hanya sekadar memberi kemudahan buat para nelayan besar yang memiliki modal, fasilitas bahkan pabrik perikanan.

“Memajukan dan memperbaiki nasib nelayan kecil itu cuma pencitraan aja mas,” pungkas Ismail.

Editor      : Penerus Bonar
Reporter : Odie Krisno