Mantan Direktur BAIS Jadi Korban Mafia Tanah 

Mantan Direktur BAIS Jadi Korban Mafia Tanah Mayjen (Purn) TNI Erick Syadzily memperlihatkan laporan polisi karena menjadi korban mafia tanah. Foto: istimewa

KEADILAN- Mantan Direktur Badan Intelijen Strategis (BAIS) Mayjen (Purn) TNI Emack Syadzily menjadi korban mafia tanah di Bedahan, Sawangan, Kota Depok. Bahkan pelaku diduga memanipulasi tanda tangan purnawirawan jenderal bintang dua itu.

Syadzily mengungkapkan, kejadian itu bermula ketika ia hendak menjual lahan seluas 2.930 meter dengan status hak milik di wilayah Bedahan, Sawangan. Kemudian pada tahun 2018, Syadzily dihubungi oleh salah satu kerabatnya, Anton yang memberi tahu ada bahwa ada orang yang berniat membeli tanah tersebut.

“Pak Anton menghubungi saya, karena ada seorang yang bernama Burhanudin berminat membeli tanah. Akhirnya kami bertemu di Bogor,” ujarnya kepada wartawan, Sabtu 20 November 2021.

“Kira- kira 11 Januari 2019, saya kembali dihubungi Pak Anton untuk bertemu kembali dengan Burhanudin. Saya bawa sertifikat tanah dan akta jual beli ( AJB),” sambungnya.

Setelah melalui tahap negosiasi, akhirnya disepakati lahan tersebut dijual dengan harga Rp 3 miliar.

“Kata Burhanudin Rp 3 miliar akan dibayar dengan tanda terima kertas yang dibawanya dengan tengang waktu pembayaran dua tiga hari,” terang Syadzily.

Singkat cerita, ternyata pria yang berinisial B tak juga membayar seperti yang sudah dijanjikan. Karena merasa ada yang tidak beres, mantan petinggi BAIS itu akhirnya meminta Burhanudin untuk mengembalikan sertifikat tanah tersebut. Namun yang bersangkutan berbelit dengan banyak alasan.

Sementara itu ketua RW 03 Kelurahan Bedahan, Masduki menjelaskan bahwa lahan yang terletak di Perigi,Bedahan itu sudah dibeli Pemkot Depok melalui Badan Keuangan Daerah Kota Depok kepada Burhanudin selaku pengembang perumahan.

“Lahan sudah dibeli Badan Keuangan Daerah Kota Depok, untuk dijadikan tempat pemakaman umum pemda,” katanya kepada keadilan.id.

Belakangan diketahui, rupanya sertifikat tersebut telah dipakai B sebagai syarat fasilitas sosial (fasos) dan Fasilitas umum ( fasum)
sebuah perumahan elite di kawasan Duren Seribu, Kecamatan Bojongsari, Kota Depok.

Mendengar hal tersebut, Syadzily semakin yakin sudah menjadi korban mafia tanah.

“Fasos fasumnya tanah tersebut ternyata tanah saya yang di Bedahan. Padahal sepersenpun saya belum terima uang,” bebernya.

Setelah melakukan kroscek ke Badan Keuangan Daerah (BKD) Kota Depok, benar saja, sertifikat tanah muliknya ada di kantor institusi tersebut.

“Saya lihat ada AJB saya dengan si B, lengkap sampai RT/ RW, camat. Tanda tangan saya dipalsukan. Ada 4 sampai 7 dokumen yang dipalsukan,” jelasnya.

Lebih lanjut mantan petinggi BAIS itu mengatakan sudah melaporkan kasus tersebut ke Bareskrim Mabes Polri, dan sekarang sudah dalam tahap penyidikan.

Sementara itu, salah satu Kabid Aset Pemkot Depok, Fadly belum bisa memberikan komentar soal kasus ini.

“Langsung saja ke ibu Nina (Kepala BKD),” ucapnya singkat.

 

Editor      : Darman Tanjung
Reporter : Rahmat Fauzi