Korupsi Jaktour, Saksi Akui Tutup Rekening Perusahaan di Bank BJB Atas Perintah Direksinya

Korupsi Jaktour, Saksi Akui Tutup Rekening Perusahaan di Bank BJB Atas Perintah DireksinyaSidang perkara dugaan penyalahgunaan keuangan BUMD Jakarta. (Foto: Keadilan/AG)

KEADILAN – Pengadilan Tipikor Jakarta, kembali menggelar sidang terkait dugaan penyalahgunaan keuangan anak usaha PT Jakarta Tourisindo/Jaktour (BUMD DKI Jakarta), Grand Cempaka Resort & Convention Hotel.

Para terdakwa adalah Mantan Credit Manager Grand Cempaka Resort & Convention Hotel Unit Usaha PT Jakarta Tourisndo BUMD Pemprov DKI Jakarta, Irpan Sudrajat, mantan General Manager, Riza Iskandar, dan Chief Accounting Suyanto.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan saksi dari internal audit PT Jakarta Tourisindo, Aswar. Dalam kesaksiannya, Aswar mengaku diperintahkan oleh direksinya untuk menutup rekening Bank Jabar (BJB) perusahaannya.

“Karena perintah dari direksi agar ditutup apabila tamu-tamu kita memang lebih banyak membayar ke Bank Jabar ada buka rekening baru. Dalam arti resmi, (baik) cek maupun permohonannya ditandatangani oleh direksi,” ujar Aswar saat menjadi saksi di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (25/11/2021).

Aswar menjelaskan, perintah itu sebelum adanya pemeriksaan audit dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yakni pada tahun 2012.

“Itu bukan 2010. Saya menerangkan bahwa saya mulai bekerja pada 2010 dan rekening yang sudah digunakan oleh Patra Cipayung itu pada 2012,” tuturnya.

Selain itu, Aswar juga diperintahkan berkoordinasi untuk melakukan penagihan sejumlah rekening kepada 300 instansi. Diketahui, tamu Grand Cempaka Resort & Convention Hotel adalah dari berbagai instansi dan lembaga pemerintahan.

Sejumlah rekening itu diantaranya ada Bank DKI, Bank Jabar, dan Bank Mandiri. Tapi di Bank Jabar, Aswar mengakui diperintahkan oleh direksinya untuk ditutup dan dibuka kembali secara resmi.

“Artinya Bank Jabar ada lagi, tapi tidak menggunakan rekening yang abal-abal. Bukan nomer (rekening) yang sama, itu nomer baru karena yang lama udah ditutup,” ungkapnya.

Diketahui, jaksa penuntut umum mendakwa para terdakwa PT Jakarta Tourisindo Grand Cempaka Resort & Convention Hotel selaku BUMD DKI Jakarta.

Dalam dakwaannya dijelaskan, pembuatan dan penandatanganan cek setiap kali penarikan uang dari rekening bank BJB Cabang Bogor yang menampung transaksi pembayaran jasa hotel, para terdakwa tidak mengikuti ketentuan yang berlaku di perusahaan.

Menurut jaksa, hal itu dikarenakan tidak ada batasan nilai cek giro yang ditandatangani oleh pemegang spesimen yakni para terdakwa sendiri.

“Tidak terdaftar dan tidak pernah dilaporkan dalam neraca keuangan Grand Cempaka Resort & Convention Hotel dan PT Jakarta Tourisindo,” kata jaksa dalam surat dakwaannya.

Atas perbuatannya itu, para terdakwa diduga telah merugikan keuangan daerah sebesar Rp5,194.790.618.

Para terdakwa dikenakan Pasal 2 ayat 1 Jo Pasal 18 ayat 1 huruf b UU No. 31/199 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo UU No. 20/2001 tentang Perubahan Atas UU No. 31/1999 Jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Editor      : Penerus Bonar
Reporter : Ainul Ghurri