Hari Pahlawan dan Hubungan Indonesia-Australia

Hari Pahlawan dan Hubungan Indonesia-AustraliaDr Zulfan Tadjoeddin (memakai topi) saat berkunjung ke Cowra 13 November 2021 lalu.

KEADILAN – Cowra adalah kota kecil di pedalaman New South Wales (NSW), Australia. Berjarak sekitar 300 km sebelah barat Sydney yang bisa ditempuh dengan sekitar 4 jam berkendaraan.

Di Cowra tersimpan sekeping sejarah awal hubungan Indonesia dan Australia. Di kota kecil itu bersemayam jenazah 13 orang perintis kemerdekaan Indonesia.

Mereka adalah bagian dari sekitar 500 kaum nasionalis yang sempat ditahan di Camp Tahanan Perang Cowra (Prisoners of War (POW) camp) tahun 1943-1944. Mereka begabung dengan sekitar 700 pelaut asal Indonesia yang bekerja di kapal-kapal Belanda, yang ditahan sejak setahun sebelumnya (1942) karena mogok menuntut kesetaraan upah.

Kaum nasionalis tersebut adalah mereka yang diasingkan Belanda ke Boven Digul, yang kemudian diungsikan ke Australia ketika Indonesia jatuh ke tangan Jepang dalam Perang Dunia II. Belanda khawatir, kaum nasionalis ini akan dimanfaatkan oleh Jepang.

Sekitar 1200 orang Indonesia tersebut yang terdiri dari alumni Digul dan para pelaut ditempatkan di Camp Tahanan Perang Cowra bersama dengan tahanan perang dari tentara Italia dan Jepang yang ditangkap Sekutu dan dititipkan ke Australia. Belakangan, Pemerintah Australia menyadari bahwa tahanan dari Indonesia tersebut adalah kaum nasionalis dan anak buah kapal, bukannya penjahat perang. Apa yang salah dengan mereka? Lalu, mereka pun dibebaskan.

Alumni Cowra dan Digul tersebut menjadi aktivis kemerdekaan Indonesia di Australia. Pemerintah Australia yang saat itu dipimpin oleh Partai Buruh dan berbagai kalangan masyarakat Australia sangat bersimpati dan mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia tersebut.

Jadi hubungan Indonesia-Australia dalam bentuk “people-to-peope relations” sudah terbentuk sebelum Republik Indonesia diproklamirkan Soekarno-Hatta tanggal 17 Agustus 1945.

oOo

Molly Bondan adalah contoh klasik. Wanita Australia kelahiran tahun 1912 ini menikah dengan Mohamad Bondan di Brisbane tahun 1946 saat mereka aktif berkampanye bersama warga Australia lainnya mendukung gerakan kemerdekaan Indonesia.

Bondan adalah alumni Cowra dan Digul. Dia adalah aktivis kemerdekaan Indonesia. Merupakan teman dan pengikut Hatta. Tahun 1933, mereka sama-sama ditangkap Belanda dan dua tahun kemudian sama-sama dibuang ke Boven Digul.

Hatta hanya setahun di Digul, Belanda memindahkannya ke Banda Neira. Sementara Bondan tetap di Digul sampai tahun 1943, ketika ia bersama rombongan Digul diungsikan Belanda ke Australia.

Tahun 1947, dengan membawa seorang bayi laki-laki, pasangan Molly dan Mohamad Bondan, terbang ke Yogyakarta untuk mendukung republik yang baru berdiri. Begitu sampai di Yogyakarta, Bondan mengontak Wakil Presiden Hatta yang langsung menugaskan dia untuk membantu Kementerian Tenaga Kerja.

Tahun 1949, mereka pindah ke Jakarta. Bondan tetap di Kementerian Tenaga Kerja. Molly yang sudah menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) bekerja di Kementerian Luar Negeri; salah satu tugas Molly adalah menjadi penulis pidato bahasa Inggris untuk Presiden Soekarno. Dia pun ikut dalam kepanitiaan Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung tahun 1955.

Molly meninggal di Jakarta tahun 1990, sembilan tahun setelah kepergian Bondan. Kisah hidupnya dituangkan dalam sebuah buku yang berjudul “In Love with A Nation: Molly Bondan and Indonesia”.

oOo

Masih dalam rangka Hari Pahlawan, saya ikut dengan serombongan masyarakat Indonesia dari Sydney, Canberra dan Melbourne berkunjung ke Cowra, 13 November 2021 lalu. Rombongan dipimpin oleh Konsul Jendral RI di Sydney. Hadir pula Atase Pertahanan dari ketiga matra (darat, laut dan Udara) dari KBRI Canberra.

Walikota Cowra sudah menunggu di makam. Lagu Kebangsaan Indonesia dan Australia dikumandangkan, dilanjutkan dengan mengheningkan cipta dan meletakkan karangan bunga. Saya ikut menabur bunga sambil melafalkan Surah Al-Fatihah.

Makam pejuang kemerdekaan tersebut dipugar Pemerintah Indonesia tahun 1997. Sejarawan Jan Lingard dari University of Sydney berhasil mengidentifikasi 12 makam, sedangkan satu makam tetap tidak dikenal.

Diantara batu nisan, terbaca nama perempuan, bayi dan anak-anak. Mereka anggota keluarga alumni Digul. Sebagian para aktivis kemerdekaan, mereka diasingkan Belanda ke Digul lengkap dengan istri dan anak-anak mereka.

oOo

Salah satu alumni Cowra adalah Siti Chamsinah. Tahun 1944, dia meninggalkan Cowra saat berusia 17 tahun. Siti dikirim ke Melbourne untuk sekolah perawat di Melbourne. Sedangkan keluarganya tinggal di Mackay, sebuah kota kecil beriklim tropis di bagian utara Queensland.

Siti lahir tahun 1926. Ketika berusia dua tahun, Siti dengan Ibu dan empat saudara kandungnya ikut ayah mereka Mohammad Amin yang diasingkan Belanda ke Digul. Amin adalah aktivis Syarekat Islam. Selama 15 tahun masa pengasingan di Digul, Siti mendapatkan tiga orang adik lagi.

Kemudian, mereka sekeluarga diungsikan Belanda ke Australia dan merasakan POW Camp di Cowra. Tahun 1945, Siti menikah dengan Jahja Nasution sesama aktivis politik alumni Cowra.

Siti kembali ke Indonesia, menetap di Jakarta dan tetap menjalin komunikasi dengan teman-temannya saat bersekolah di Melbourne.

oOo

Hubungan antara dua negara, seperti Indonesia adan Australia, memiliki banyak dimensi. Selain hubungan diplomatik resmi antara dua pemerintahan (government to government – G to G), ada pula hubungan “people to people – P to P”, “business to business – B to B ” dan belakangan “university to university – U to U”.

Hubungan diplomatik “G to G” bisa jadi mengalami pasang surut, turun-naik, asam-manis. Tetapi, dalam tiga dimensi yang lain, keadaan sepertinya lebih stabil.

Hubungan “B to B” sangat rasional. Sepanjang sama-sama untung, mereka akan terus berkolaborasi, bagaimanapun panasnya suhu politik hubungan antar negara.

Dalam skala yang sangat kecil, saya ikut berkontribusi dalam dimensi hubungan “P to P” dan “U to U” dalam konteks hubungan Indonesia-Australia.

Saya menerima beasiswa PhD dari dana yang sebenarnya bersumber dari uang pajak rakyat Australia. Lalu bekerja sebagai dosen sebuah universitas di Australia.

Dari dekat saya mengamati mahasiswa Indonesia bersekolah tingkat paska-sarjana di Australia. Pernah pula menjadi pembimbing mereka. Banyak diantara mereka yang datang dengan dana rupiah.

Beberapa kali saya membawa rombongan mahasiswa Australia untuk study tour ke berbagai daerah di Indonesia. Kepada para mahasiswa tersebut saya tekankan bahwa selama study tour, mereka adalah duta universitas dan duta Australia di Indonesia. Saya meminta supaya mereka selalu menjaga nama baik universitas dan Australia.

Acapkali saya diundang universitas di Indonesia karena status saya sebagai dosen di Australia. Saya pun menghubungkan universitas di Australia dan Indonesia untuk berbagai skema kerjasama.

Kembali ke Cowra, disana tersimpan salah satu titik awal hubungan “P to P” antara Indonesia dan Australia, bahkan sebelum republik berdiri.
oOo

Dr Zulfan Tadjoeddin
Penulis adalah Associate Professor in Development Studies at Western Sydney University

Editor      :
Reporter :