Korupsi Jasindo, Saksi Ungkap  Kickback dari Agen Fiktif

Korupsi Jasindo, Saksi Ungkap  Kickback dari Agen FiktifKadiv Keuangan PT Jasindo Tisna Palwani saat menjadi saksi perkara PT Jasindo di Pengadilan Tipikor Jakarta. Foto: keadilan/AG

KEADILAN- Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, kembali menggelar sidang terkait pembayaran komisi terhadap kegiatan agen asuransi fiktif pada PT Jasindo yang merugikan negara Rp7,58 miliar.

Sidang beragendakan pemeriksaan saksi-saksi Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK. Dua saksi yang hadir yakni mantan Dirut PT Jasindo Budi Tjahjono dan mantan Kepala Divisi Keuangan PT Jasindo Tisna Palwani.

Keduanya bertindak sebagai saksi memberatkan untuk dua terdakwa yakni, mantan Direktur Keuangan dan Investasi PT Jasindo, Solihah dan Kiagus Emil Fahmy Cornain.

Tisna mengakui, banyak lupa atas peristiwa agen fiktif di Jasindo. Jaksa mengklarifikasi berdasarkan berita acara pemeriksaan (BAP).

Dalam BAP dijelaskan, meski tidak melakukan pekerjaan, ada sejumlah agen yang ditunjuk dan dibayar fee. Ada satu nama yang memiliki beberapa agen yang kemudian Jasindo memberikan fee kepada agen.

Selaku kepala divisi keuangan Jasindo Tisna mengakui, sempat mencatatkan aliran penerimaan uang ke beberapa agen asuransi yang kemudian agen tersebut menyetor kembali ke pihaknya.

“Mereka punya bisnis-bisnis yang bisa diterima oleh Jasindo, makannya kami harus memberikan fee kepada agen itu,” ujar Tisna, Senin (29/11/3021).

Menurutnya, pemberian fee tersebut atas perintah Direktur Utama PT Jasindo kepada para agen tersebut kemudian menyetor kembali ke rekening penampungan Tisna.

“Atas perintah Pak Budi,” ungkapnya.

Diketahui, Solihah dan Kiagus Emil didakwa melakukan korupsi terkait pembayaran komisi terhadap kegiatan agen asuransi fiktif pada PT Jasindo bersama-sama dengan mantan Direktur Utama PT Jasindo, Budi Tjahjono.

Kerugian negara tersebut terjadi akibat perbuatan Solihah dan Budi Tjahjono dinilai telah memperkaya diri sendiri ataupun orang lain.

Solihah disebut telah memperkaya diri sendiri sejumlah 198.340 dolar AS. Kemudian, ia dan Kiagus juga memperkaya Budi Tjahjono sebesar 462.795 dolar AS dan Supomo Hidjazie senilai 136 dolar AS. Akibat perbuatannya itu, negara dirugikan sinilai 766.955 dolar AS atau setara Rp7,58 miliar.

Atas perbuatannya tersebut, Solihah dan Kiagus didakwa melanggar Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 Jo Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Editor      : Darman Tanjung
Reporter : Ainul Ghurri