Cerita Blak-Blakan Korban Perundungan di KPI

Cerita Blak-Blakan Korban Perundungan di KPIRuang tunggu Kantor KPI Pusat

KEADILAN – MS yang merupakan korban pelecehan dan perundungan di Kantor Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) bercerita tentang kejadian yang dialaminya. Dalam ceritanya, MS mengungkapkan bahwa alasan dirinya memviralkan peristiwa tersebut adalah karena laporan yang ia kirim ke berbagai pihak tak kunjung ditindaklanjuti.

“Tahun 2017 sebenarnya sudah lapor. Waktu itu saya kirim ke Komnas Hak Asasi Manusia (HAM). Komnas HAM saat itu menyarankan saya untuk mendiskusikan terlebih dahulu secara internal. Akhirnya pada tahun 2019, saya beranikan diri untuk menghadap Kepala Sub Bagian (Kasubbag) Penyiaran yang sekarang sudah pensiun. Tetapi dia bilang, kenapa baru bicara sekarang, ini kasus kan sudah lama. Ini sudah susah,” kata MS saat ditemui bersama kuasa hukumnya Muhammad Mualimin, Rabu (1/12/2021).

Sebelum itu, di tahun 2019 MS juga sempat melapor di Polsek Gambir. Oleh polisi, MS juga disarankan untuk menyelesaikan kasus secara internal. Oleh sebab itu MS memberanikan diri untuk melapor ke Kasubbag dan Kepala Bagian (Kabag). “Saya juga beranikan diri untuk masuk ke ruangan Kabag. Itu saya ceritakan semua, sampai saya menangis. Kemudian akhirnya membuahkan hasil. Hasilnya itu, saya dipindahkan tempat duduk. Semula tempat saya duduk itu kan di ruangan yang tertutup kaca, dipindahkan lah ke luarnya, yang agak terbuka,” ucap MS.

Hal itu menurut MS dilakukan untuk meminimalisir kontak dengan para terduga pelaku. Tetapi tidak serta-merta menghilangkan rasa khawatir MS. MS mengisahkan kalau ia sering datang lebih pagi untuk mengerjakan pekerjaannya. Kemudian saat para terduga pelaku datang, dia pergi ke Masjid. Tetapi pernah saat MS kembali, coretan ‘di sini tidak ada orang” sudah terpajang di kursinya. Tas MS juga pernah dilempar oleh salah satu terlapor, karena sebelumnya MS sempat menagih hutang.

MS mengakui, semua pegawai di divisi tempatnya bekerja adalah laki-laki. Sehingga cara bercanda di sana sering ketelaluan. Hal ini sudah ada semenjak MS mulai bekerja di KPI. MS juga menyebutkan, selain dirinya, masih ada beberapa rekannya yang juga menjadi korban perundungan. Bahkan ada yang sampai dioleskan balsam di kelaminnya.

Tak seperti rekan kerjanya yang lain, MS mencoba beranikan diri untuk melaporkan kasus yang menimpanya. Meskipun awalnya banyak yang meyepelekan, tapi paska viral pernyataan MS di media sosial, Komisioner KPI sendiri yang datang menemui dan menemani MS membuat laporan di Polres Jakarta Pusat.

Terkait adanya upaya damai, MS mengungkapkan, waktu itu ada dari staf KPI yang menghubunginya dan memintanya datang ke Kantor KPI. Karena yang menghubungi itu masih atasannya saat bekerja, ia pun datang pada malam 8 September 2021.

Sesampainya MS di KPI, dia dipertemukan dengan terlapor. Kemudian ia disodorkan sebuah perjanjian, dimana salah satu poinnya harus mencabut laporan, dan mengatakan kalau semua tulisannya yang viral di media sosial itu tidak benar.

MS menolak. Namun Kepala Sekertariat KPI Umri ikut menyarankan MS untuk menyetujui perjanjian itu. Soal laporan kalau MS pernah diceburkan ke kolam renang oleh rekan-rekannya saat malam hari di vila, Umri menyarankan MS untuk bilang bahwa itu hanya permainan, dan semua rekannya yang lain juga diceburkan. Tetapi hal ini pernah di bantah oleh KPI.

MS ingin kasus yang dialaminya dapat ditindaklkanjuti dengan serius. Dia berharap dapat bertemu Presiden Joko Widodo untuk menceritakan langsung kejadian ini. “Saya ingin bertemu dengan Presiden Joko Widodo, karena kasus ini macet. Saya juga sudah depresi. Istri saya dan Ibu saya juga cemas karena kasus ini tidak selesai-selesai,” tutup MS.

Sebelumnya diberitakan, pegawai KPI berinisial MS mengaku sering menerima perundungan sejak tahun 2012. Dalam keterangan tertulisnya mengatakan pada tahun 2015, rekan kerjanya ramai-ramai memegangi kepala, tangan, kaki, dan melakukan pelecehan seksual padanya.

MS bercerita kalau dia sudah dua kali mengadukan kasus ini kepolisian, tapi tidak diteruskan. Kemudian pada awal bulan lalu MS melaporkan lima pegawai KPI, yaitu RM, FP, RT, EO dan CL ke Polres Jakarta Pusat.

MS sendiri telah selesai menjalani rangakaian pemeriksaan psikis di RS Polri pada Kamis, (14/10/2021). Pemeriksaan dinyatakan selesai setelah MS enam kali diperiksa. Nantinya hasil pemeriksaan akan langsung diserahkan ke Penyidik Polres Jakarta Pusat. Hasil itu akan menjadi dasar polisi untuk bertindak dan memproses laporan MS.

Sementara itu, Komnas HAM yang juga menyelidiki kasus ini mengungkapkan bahwa KPI telah gagal dalam menyediakan tempat kerja yang aman dan nyaman. Komnas HAM juga memberikan rekomendasi ke KPI untuk membuat pedoman pencegahan, penanganan serta pemulihan atas tindakan perundungan, pelecehan, dan kekerasan.

Dari KPI juga mengatakan akan melakukan kajian terhadap laporan dan rekomendasi Komnas HAM, dan menunggu penyampaian dokumen resmi dari Komnas HAM atas laporan tersebut.

Editor      : Syamsul Mahmuddin
Reporter : Charlie Tobing