Visa Habis 3 Tahun 2 Bulan, Komisaris Asal India Diadili

Visa Habis 3 Tahun 2 Bulan, Komisaris Asal India DiadiliSaksi Ahli Keimigrasian Feddy Mulyana Pasha memberikan keterangan di PN Jakut, Kamis (20/1/2022). Foto: Keadilan/CT

KEADILAN – Pengadilan Negeri Jakarta Utara (PN Jakut) menggelar sidang pemeriksaan saksi ahli dalam kasus overstay izin tinggal warga negara asing (WNA) asal India yang bernama Kaldeep Singh pada Kamis (20/1/2022). Dalam sidang ini majelis hakim memperingatkan keimigrasian untuk tidak lalai dalam mengawasi WNA di Indonesia.

Sidang dipimpin oleh Hakim Ketua Benny Oktavianus, didampingi Maryono dan Maskur sebagai anggota. Pada sidang ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Andrian Al Mas’Udi menghadirkan Feddy Maulana Pasha sebagai saksi ahli keimigrasian.

Saksi menerangkan, bahwa memang untuk tinggal di Indonesia, WNA harus melengkapi segala dokumen keimigrasian seperti paspor dan visa yang masih berlaku. Apabila masa berlaku sudah habis, maka WNA tersebut akan diberi waktu dua bulan untuk meninggalkan Indonesia.

Sementara paspor terdakwa hanya berlaku sampai 29 Maret 2019. Bahkan terdakwa masuk ke Indonesia pada bulan 8 November 2018 dengan visa bebas kunjungan selama dua bulan, yang habis masa berlakunya pada 7 Desember 2018. Untuk itu terdakwa dapat dipidanakan.

Mendengar hal itu majelis pun heran. Pasalnya, paspor dan izin tinggal terdakwa sudah habis sejak tahun 2019. Namun, terdakwa yang diketahui bekerja sebagai komisaris di salah satu perusahaan di Jakarta Timur ini baru ditangkap pada 14 September 2021. Ada juga kesalahan dimana terdakwa dikatakan tinggal di Denpasar, padahal sebenarnya ia tinggal di Jakarta.

“Kalau alamatnya seperti ini, mana yang mau dipakai? Jangan main-main dengan data! Berarti stay 30 hari, kalau lewat ya dikejar dong. Mau dimana tinggal, disitu harus dapat. Kalau tidak, masuk semua orang dari luar. Karena pintu masuk ke Indonesia adalah Imigrasi. Apabila keimigrasian lalai, gimana?” tegas Hakim Ketua memperingatkan.

Saksi menjawab, untuk data memang ada kesalahan dari petugas yang mungkin dikarenakan petugas kelelahan akibat banyaknya data yang diproses di Imigrasi. Hal tersebut juga sudah dievaluasi kantor Imigrasi.

Lebih lanjut saksi menerangkan, Imigrasi ada Intelijen yang punya data base. Ketika ada WNA yang izin tinggalnya habis, dia otomatis muncul, dan dilakukan pencarian.

Hakim menegaskan lagi, dari tahun 2019 kenapa terdakwa tidak dicari, dan dibiarkan sampai tertangkap. “Saya tuntut kejujuran kalian. Apa maksud kalian? Tahun, 2018, 2019, baru tahun 2021. Berapa tahun baru tertangkap?” tanya hakim.

Saksi menjelaskan, sebelumnya Imigrasi selalu mencatat data kedatangan dan keberangkatan WNA. “Saat itu karena antrian cukup panjang, Pak Wapres Jusuf Kala waktu itu minta birokrasinya di pangkas, sehingga untuk pengisian kartu kedatangan dimana terdapat alamat, itu tidak diberikan lagi kepada WNA . Tetapi semenjak pandemi tahun 2020, visa bebas kunjungan ditutup. Semua yang masuk ke Indonesia kini sudah tercatat jelas sekali. Dan saat ini, sedang dilakukan pembahasan perihal masalah ini,” jelas saksi.

Usai pemeriksaan saksi ahli, sidang dilanjutkan dengan pemeriksaan terdakwa. Kepada majelis hakim terdakwa mengaku dirinya mengetahui masa berlaku paspor dan visanya habis. Dirinya juga sempat memperpanjang izin tinggalnya dua kali, masing-masing satu bulan.

Terdakwa juga membantah bahwa dirinya bekerja sebagai komisaris. Dia mengatakan, dirinya merupakan pemilik saham di perusahaan yang dimaksud.

Setelah itu sidang ditutup. Sidang akan digelar kembali pada Selasa (24/1/2022) dengan agenda mendengar keterangan saksi dari terdakwa.

Kaldeep diketahui tertangkap saat petugas Imigrasi Kelas I TPI Jakarta Utara melakukan pengawasan keimigrasian di Apartemen City Home Mall of Indonesia. Saat dimintai dokumen kelengkapan keimigrasian, terdakwa mengatakan bahwa paspornya sedang berada di agen.

Petugas Imigrasi kemudian membawanya untuk dimintai keterangan. Saat dilakukan pemeriksaan, petugas menemukan bahwa paspor dan visa kunjungan terdakwa sudah habis masa izinnya.

Editor      : Syamsul Mahmuddin
Reporter : Charlie Tobing