Korupsi 2,5 Triliun Waskita, Jaksa Tetapkan Lagi Tiga Tersangka

Korupsi 2,5 Triliun Waskita, Jaksa Tetapkan Lagi Tiga TersangkaDirektur Penyidikan Jampidsus, Kuntadi, memberikan keterangan pers kasus korupsi Waskita. (Foto. Dokumen Puspenkum Kejagung)

KEADILAN – Jaksa menetapkan lagi tiga tersangka perkara korupsi Waskita Beton. Dua tersangka ditahan. Satu tersangka tak ditahan. Sebab, sedang menjalani hukuman di Lapas Sukamiskin Bandung dalam perkara lain.

“Ketiganya KJH, H, dan JS. KJH ditahan di Rutan Salemba Cabang Kejagung, dan H ditahan di Rutan Salemba Cabang Kejari Jakarta Selatan. Sedangkan JS tetap di Sukamiskin,” ujar Dirdik Jampidsus (Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Pidana Khusus), Kuntadi, di Kejaksaan Agung, Jakarta, Kamis (22/09/2022).

Kuntadi yang didampingi Kapuspenkum (Kepala Pusat Penerangan Hukum) Kejagung, Ketut Sumedana, menyampaikan posisi ketiganya dalam perkara. KJH adalah pensiunan Waskita Beton. H adalah Direktur Utama PT Misi Mulia Metrical. Sedangkan JS merupakan Direktur Utama Waskita Beton.

Korupsi Waskita Beton yang diusut ini adalah penyelewengan dana PT Waskita Beton Precast Tbk pada 2016 sampai 2020. Kasus ini bagian dari kasus korupsi Waskita Beton yang totalnya merugikan negara Rp2,5 triliun.

Ketiga tersangka dijerat dua pasal berlapis. Primair, pasal 2 ayat (1) jo. Pasal 18 UU Tipikor (Tindak Pidana Korupsi) jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. Dan subsidair, Pasal 3 jo. Pasal 18 UU Tipikor jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Kasus Posisi

Dengan dalih terlibat pembangunan jalan Tol Semarang-Demak, Tersangka H sekitar September 2019 bertemu JS dan AW selaku Direktur Pemasaran PT Waskita Beton Precast Tbk. H menawarkan pekerjaan terkait pembangunan jalan Tol Semarang-Demak senilai Rp341.692.728.000 dengan syarat PT Waskita Beton Precast menyetorkan sejumlah uang kepada PT Misil Mulia Metrical (MMM).

Sebagai kelanjutan pembicaraan, pada 18 Desember 2019 ditandatangani Surat Perintah Kerja (SPK) Nomor : 003/M3-SPK/XII/2019 tanggal 18 Desember 2019. SPK itu senilai Rp341.692.728.000 untuk pekerjaan konstruksi jalan tol Semarang-Demak yang ditandatangani H dan AW.

PT Waskita Beton Precast melalui JS dan AW menyanggupi untuk menyediakan sejumlah dana yang diminta sebagai pelicin. Agar PT Waskita Beton Precast dapat mengeluarkan uang tersebut, Tersangka H memerintahkan MF selaku Manager Operasional PT MMM untuk membuat Administrasi Penagihan Fiktif yang diajukan kepada PT Waskita Beton Precast.

Selanjutnya KJH selaku General Manager Penunjang Produksi PT Waskita Beton Precast, Tbk. memerintahkan saksi C membuat Surat Pemesanan Fiktif senilai Rp27 Miliar. Ia memerintahkan staf SCM membuat Berita Acara Overbooking Material fiktif untuk BP Lalang dan BP Tebing Tinggi.

Pada 25 Februari 2020, PT Waskita Beton Precast mentransfer uang Rp16.844.363.402 ke rekening PT MMM pada Bank Mandiri KCP Jakarta Angkasa.

Uang yang telah ditransfer ke rekening PT MMM tersebut yang sedianya dipergunakan untuk membayar setoran modal ke konsorsium PT Pembangunan Perumahan Semarang-Demak akan tetapi ternyata uang tersebut digunakan secara pribadi oleh Tersangka H.

Periksa 82 Saksi

Dalam perkara penyimpangan dana PT. Waskita Beton Precast pada 2016 s/d 2020, telah dilakukan pemeriksaan terhadap 82 saksi, dan alat bukti berupa 523 dokumen. Kerugian Negara dalam perkara ini sebesar Rp16.844.363.402 yang merupakan bagian dari kerugian total sebesar Rp2,5 Triliun.

Dengan ditetapkan KJH, H, dan JS sebagai tersangka, maka jumlah tersangka dalam perkara Waskita Beton menjadi tujuh orang. Ketujuhnya AW, AP, BP, A, KJH, H, dan JS.

Editor: Syamsul Mahmuddin