Rektor Perempuan Pertama dan Pemecah Rekor MURI

Rektor Perempuan Pertama dan Pemecah Rekor MURI

Prof. Dr. Amany Lubis, M A.

KEADILAN – UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, mencatatkan sejarahnya untuk kali pertama dinahkodai seorang rektor perempuan. Yakni, Prof Dr Amany Burhanuddin Umar Lubis.

Perempuan berusia 58 itu, telah memecahkan dua rekor MURI (Museum Rekor Dunia Indonesia) sekaligus. Pertama, sebagai Rektor Perempuan Pertama UIN di Indonesia dan Penceramah Perempuan Pertama di depan Raja Maroko.

Penghargaan itu langsung diserahkan Jaya Suprana selaku pendiri MURI di Auditorium Harun Nasution UIN Jakarta, Ciputat, Jumat (20/12/2019) silam. Mantan Ketua MUI Pusat Bidang Perempuan, Remaja, dan Keluarga itu juga mendapatkan penghargaan untuk kategori perempuan Hebat Sosial Budaya dan Pendidikan pada 2019 yang diinisiasi oleh Sindo Media.

Ia merupakan anak pertama dari pasangan Prof Nabila Lubis dan Burhanuddin Lubis. Dia menghabiskan masa belajarnya di Kairo Mesir, mulai dari SMP hingga kuliah Strata Satu (S1).

Guru Besar Sejarah Politik Islam itu, memperoleh gelar Doktor Pengkajian Islam/Sejarah Kebudayaan Islam dan meraih disertasi terbaik kedua nasional di lingkungan Departemen Agama RI pada 2002. Kemudian, ia berhasil meraih gelar Profesor Politik Islam pada 2006 silam.

Memimpin UIN Jakarta bukanlah perkara mudah, karena kampus Islam itu memiliki tradisi keilmuan yang sangat kuat dengan madzhab pemikiran yang khas, yakni Madzhab Ciputat. Di awal kepemimpinannya, Amany sudah memancangkan visi-misi UIN Jakarta yang menitik beratkan pentingnya peningkatan mutu lulusan, di samping penguatan rekognisi nasional-global.

Salah satu cita-cita besarnya yakni,  75% lulusan S1 melanjutkan studi ke jenjang S2 dan 50% lulusan S2 dapat melanjutkan studi ke jenjang S3. Ia ingin meningkatkan kepuasan user atas lulusan UIN Jakarta, menjadikan mereka mendapatkan pekerjaan sesuai bidang ilmunya. Selain itu, meningkatkan jumlah mahasiswa internasional, serta kemampuan bahasa asing bagi civitas.

“Upaya lainnya adalah menyediakan link program beasiswa untuk S1 yang akan melanjutkan S2, maupun S2 yang akan melanjutkan S3,” ungkap Prof Amany dalam keterangannya yang diterima KEADILAN, Jumat 28 Oktober lalu.

Sepak terjang Amany bukan hanya terbatas di UIN Jakarta. Sejak 2009 ia juga aktif sebagai dosen Sekolah Kajian Stratejik dan Global Pasca-Sarjana Kajian Timur Tengah dan Islam, Universitas Indonesia (UI). Ia juga mengajar di Program Pascasarjana Fakultas Strategi Pertahanan, Universitas Pertahanan.

Sebagai dosen dengan jam terbang yang padat, Amany masih sempat menuliskan sejumlah karyanya dan aktif menyuarakan ilmunya di berbagai forum internasional. Setidaknya, hingga kini ia sudah menjelajahi 30 negara di lima benua.

Reporter: Ainul Ghurri