Mantan Dirjen Hortikultura Divonis Korupsi

Mantan Dirjen Hortikultura Divonis KorupsiTerdakwa Hasanuddin di sidang vonis. Foto: Ainul Ghurri/keadilan.id

KEADILAN– Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian  periode 2010-2015 Hasanuddin Ibrahim divonis 5,5 tahun penjara. Ia dinyatakan terbukti korupsi pengadaan pembasmi hama yang merugikan keuangan negara sebesar Rp12,947 miliar.

“Mengadili, menyatakan terdakwa Hasanuddin Ibrahim terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana turut serta melakukan tindak pidana korupsi sebagaimana didakwakan dalam dakwaan alternatif pertama,” ucap Hakim Ketua Ignatius Eko Purwanto di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (18/1/2023).

Hakim menyatakan, Hasanuddin  terbukti melakukan tindak pidana korupsi terkait pengadaan barang dan jasa di Ditjen Hortikultura Kementan.

Perbuatan Hasanuddin, memperkaya sejumlah pihak yaitu Eko Mardiyanto selaku PPK pada Satuan Kerja Ditjen Hortikultura sejumlah Rp1,05 miliar, Sutrisno selaku Direktur Utama PT Hidayah Nur Wahana sejumlah Rp7,302 miliar.

Kemudian, Nasser Ibrahim selaku adik kandung terdakwa Hasanuddin Ibrahim sejumlah Rp725 juta, memperkaya pemilik PT KMJ Subhan sejumlah Rp195 juta, memperkaya CV Ridho Putra sejumlah Rp1,7 miliar, PT HNW sejumlah Rp2 miliar dan memperkaya CV Danaman Surya Lestari sejumlah Rp500 juta dan merugikan keuangan negara atau perekonomian negara totalnya sejumlah Rp12,947 miliar.

Vonis tersebut sesuai tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK berdasarkan dakwaan pertama  Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang No 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU No 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Perbuatan Hasanuddin merekayasa kegiatan pengadaan fasilitasi sarana budi daya mendukung pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) tahun anggaran 2013.

Tapi, pengadaan itu tidak jadi dilakukan, sehingga dimasukkan lagi pada usulan tahun anggaran 2013 sebesar 225 ribu kilogram senilai Rp18,615 miliar yang akhirnya disetujui sebagai bagian anggaran tahun anggaran 2013.

Hasanuddin melakukan penambahan volume kegiatan dalam proses penganggaran kegiatan itu, tanpa melakukan analisis atau identifikasi kebutuhan yang sebenarnya. Dia turut mengarahkan spesifikasi pengadaan pupuk ke merek Rhizagold serta melakukan penggelembungan harga barang pengadaan.

Bahkan pada Januari 2013 Hasanuddin menambah ketersediaan stok sebesar 40 persen dari kuantitas dibutuhkan untuk mengakomodasi stok Rhizagold yang sebelumnya dimiliki Sutrisno pada tahun anggaran 2012. Lelang juga sudah diatur untuk dimenangkan oleh satu perusahaan yang digunakan Sutrisno yaitu PT Karya Muda Jaya dengan nilai kontrak Rp18,309 miliar.

Seharusnya, kata Hakim, Hasanuddin Ibrahim bertanggungjawab dalam
pengelolaan anggaran dan program kegiatan di Ditjen Hortikultura.

Reporter: Ainul Ghurri
Editor: Darman Tanjung