Taspen Menilai Rugi, Jika Semua Produk Dilebur dengan BPJS TK 

Taspen Menilai Rugi, Jika Semua Produk Dilebur dengan BPJS TK 

KEADILAN– Dirut PT Taspen (Persero) ANS Kosasih membantah wacana semua produk PT Taspen (Persero) pada 2029 mendatang bakal dilebur ke Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (BPJS TK). Hal tersebut dikatakan Kosasih mengacu pada pernyataan saksi ahli pemerintah saat uji materi Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.

“Kalau wacana penggabungan itu kemarin saksi ahli dari pemerintah kan datang ke MK. Saksi ahli sendiri bilang enggak ada wacana penggabungan. Saksi ahli bilang hanya pengalihan sebagian program tapi enggak tahu program yang mana,” ujar Kosasih di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (19/2).

Menurut Kosasih, berdasarkan UU Aparatur Sipil Negara (ASN), PT Taspen bertugas untuk mengelolah dana penghargaan atas pengabdian semua ASN se-tanah air.

“Penghargaan itu, kita yang mengelola. Kalau menurut Jamsostek, ada hak dan ada dana penghargaan. Selama ini yang kita kelola dana penghargaan. Yang dikelola Jamsostek saya enggak tahu itu. Tapi kalau disamakan, kita rugi. Karena kita sudah lebih tinggi daripada mereka,” katanya.

Kosasih menuturkan, pihaknya saat ini mempunyai dua program besar yakni akumulasi pensiunan gaji bulanan, dan tabungan hari tua. Pensiunan ASN, kata Kosasih, mendapat banyak manfaat.

“Dua yang paling besar adalah tabungan hari tua yang didapatkan langsung. Besar jumlahnya waktu dia pensiun dan pensiunan bulanan,” tegasnya.

Apalagi, kata Kosasih, jaminan PT Taspen bukan hanya ASN tetapi juga pejabat negara. Bahkan, pemerintah sekarang meminta tolong kepada PT Taspen untuk menjadi salah satu mitranya dalam reformasi pensiun.

“Sekarang ini yang diiur itu baru iuran dari ASN-nya. Pemerintah itu kepengen supaya ASN naik lagi. Itu nanti ada cocok dari iuran pemerintah. Kalau untuk peserta, kita jelas, yaitu ASN. Sekarang ASN 4,1 juta,” paparnya.

Diketahui, PT Taspen mencatat kinerja positif selama 2019 dengan membukukan laba bersih sebesar Rp388,24 miliar, melonjak Rp116,69 miliar jika dibandingkan dengan laba tahun 2018 sebesar Rp271,55 miliar atau naik sebesar 42,97% secara year on year.

Lonjakan laba tersebut dikontribusikan oleh kenaikan pendapatan premi sebesar Rp 977 miliar serta kenaikan pendapatan investasi sebesar Rp1,46 triliun, atau masing-masing naik sebesar 12,08% dan 19,08% dibandingkan tahun 2018.

Lonjakan laba Perseroan yang mencapai hampir 43% tersebut menunjukkan efisiensi biaya yang sangat baik diterapkan TASPEN, yang jauh lebih rendah dibandingkan expense ratio industri asurasi di Indonesia.

Kosasih menjelaskan, lonjakan kinerja tersebut merupakan buah dari implementasi strategi dan kebijakan TASPEN dalam melakukan investasi secara prudent, berhati-hati dan aman dengan memperhitungkan secara seksama tingkat risiko yang diterima, kondisi pasar, likuiditas, imbal hasil yang optimal, serta pencadangan yang konservatif untuk menjamin kesejahteraan peserta.

“Di tengah kondisi pasar yang sangat volatile kami selalu menerapkan prinsip kehati-hatian dan memprioritaskan keamanan investasi untuk mencapai manfaat yang optimal bagi para peserta. Hal tersebut menyebabkan kami berhasil mencatatkan kinerja yang positif sepanjang tahun 2019. Kenaikan laba yang signifikan ini juga mencerminkan kemampuan TASPEN untuk beroperasi secara efisien dan efektif,” katanya.

TASPEN membukukan total revenue sebesar Rp 19,28 triliun di tahun 2019 melonjak sebesar Rp 2,75 triliun dibandingkan tahun 2018 yang mencatat pendapatan total Rp 16,53 triliun atau terdongkrak 16,63% (year on year).

Kenaikan pendapatan ini jauh lebih besar daripada kenaikan beban klaim sebesar Rp 12,35 triliun di tahun 2019 yang naik hanya sebesar 12,27% (year on year) dibandingkan beban klaim tahun 2018 sebesar Rp 11 triliun.

Kinerja positif TASPEN juga terlihat pada pertumbuhan aset yang naik secara signifikan sebesar Rp 31,38 triliun di mana pada tahun 2019 TASPEN membukukan nilai aset sebesar Rp263,25 triliun atau naik atau naik sebesar Rp31,38 triliun atau 13,53% (year on year) dibandingkan tahun 2018 sebesar Rp 231,87 triliun.

Sementara dari sisi ekuitas terjadi pertumbuhan sebesar Rp1,7 triliun sepanjang tahun 2019, di mana TASPEN membukukan ekuitas sebesar Rp11,4 triliun atau meningkat 17,52% (year on year) dibandingkan tahun 2018 sebesar Rp9,7 triliun.

Total Liabilitas pada tahun 2019 tercatat Rp251,84 triliun, yang sebagian besar terdiri atas Dana Akumulasi Iuran Pensiun PNS Rp151,40 triliun serta Liabilitas kepada Peserta dan Cadangan Teknis sebesar Rp99,48 triliun. Kenaikan Cadangan Teknis yang ditetapkan oleh Direksi TASPEN menunjukkan prinsip kehati-hatian dan Good Corporate Governance yang sangat ketat diterapkan TASPEN untuk menjaga keamanan pengelolaan dan kesejahteraan peserta TASPEN.

Di tahun 2018 angka Liabilitas kepada Peserta dan Cadangan Teknis yang dicatat TASPEN sebesar Rp93,96 triliun. Hal itu berarti dengan lonjakan pendapatan yang ada TASPEN mencatatkan kenaikan Liabilitas kepada Peserta dan Cadangan Teknis sebesar Rp5,52 triliun atau ekuivalen dengan kenaikan sebesar 5,9%.

Untuk menjaga likuiditas perusahaan dan keamanan dana, TASPEN menempatkan hampir 80% deposito di bank BUMN, 18% di Bank Pembangunan Daerah (BPD) dan hanya 2% pada bank umum yang merupakan anak usaha dari Bank Mandiri dan TASPEN yaitu Bank Mandiri Taspen. Untuk investasi di saham, TASPEN memilih saham-saham emiten yang sebagian sangat besar terdaftar pada Indeks LQ-45 dan didominasi oleh saham-saham BUMN yang tergolong saham-saham blue chip.

Pada instrumen reksadana, TASPEN berinvestasi melalui maksimum 15 Manajer Investasi (MI) yang memiliki dana kelolaan (asset under management/AUM) di atas Rp 4 Triliun hingga sekitar Rp50 triliun di mana 90% di antaranya adalah MI yang menduduki peringkat 15 besar. Selain itu, hampir 50% penempatan reksadana TASPEN adalah pada MI BUMN.

Odorikus Holang

Editor      :
Reporter :