Begini Fenomena Korupsi Selama 2020

Begini Fenomena Korupsi Selama 2020Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron. Foto: tempo.co

KEADILAN- Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Nurul Ghufron membeberkan fenomena tindak pidana korupsi yang ditangani KPK selama 2020.

Fenomena korupsi itu disampaikan saat menjadi pembicara dalam acara Anti-Corruption Summit (ACS) ke-4 Tahun 2020 yang bertemakan “Quo Vadis Pemberantasan Korupsi” digelar secara virtual melalui akun Youtube KPK, Rabu (18/11/2020)

Ghufron menyatakan bahwa kejahatan tindak pidana korupsi (tipikor) selama 2020, hampir merata dari sabang sampai merauke. Bahkan pelaku kejahatan tersebut tidak membedakan partai, suku, bangsa, dan agama.

“Tidak kemudian partai A suci sementara partai lain yang khilaf, tidak. Ternyata hampir sama,” kata  Ghufron dalam acara Anti-Corruption Summit (ACS) ke-4 Tahun 2020 yang bertemakan “Quo Vadis Pemberantasan Korupsi” digelar secara virtual melalui akun Youtube KPK, Rabu (18/11/2020).

Dari sisi pelaku relatif sama yaitu swasta, kepala daerah, anggota dewan, pejabat pusat maupun daerah di masing-masing daerah.

“Kemudian dari locusnya, locus yang terjadi hampir sama, yaitu suap di pengadaan barang/jasa, suap di perizinan dan SDM, fokus pada 3 hal ini, selainnya tersebar merata,” terangnya.

Sementara modus pada tindak pidana korupsi yang paling banyak, kata Ghufron, yaitu suap sebanyak 66 persen, pemerasan dan gratifikasi sekitar 22 persen.

“Metodenya juga hampir sama, yaitu pakai cash, transfer rek ataupun bisa juga dengan mata uang asing. Bahkan kemudian untuk suap tingkat banyak tinggi itu bisa dilaksanakan di luar negeri, tidak di Indonesia supaya tidak terendus oleh KPK,” jelasnya.

Ironisnya, kata Ghufron, fenomena kasus tindak pidana korupsi ternyata tingkat pendidikan pelaku adalah sarjana sekitar 64 persen.

“Ternyata harapannya berpendidikan itu kian berkarakter kian berintegritas, ternyata pelakunya 64 persen adalah sarjana graduate bukan tidak berpendidikan,” ujarnya.

Sedangkan yang menjadi fenomena anomali dalam tipikor adalah tingkat demokrasi di Indonesia relatif baik. Mestinya kata Ghufron, semakin demokratis kian transparan korupsinya

“Harapannya rendah tetapi Indonesia dinobatkan sebagai negara kelima terbaik demokrasinya, tetapi ternyata tingkat korupsinya masih tinggi.
Inilah fenomena fakta korupsi di Indonesia,” ungkap Ghufron.

Oleh karena itu, Ghufron menjelaskan bahwa penyakit tipikor bukan penyakit personal, melainkan masalah sistemik.

Lebih lanjut, faktor yang paling menentukan lahirnya tipikor adalah faktor politik karena politik di Indonesia berbiaya tinggi sehingga para pelaku tipikor termotivasi untuk mengembalikan modalnya.

“Pada saat termotivasi untuk mengembalikan modal, maka yang terjadi adalah menjual belikan jabatannya wewenangnya dan fasilitas dan keuangan negaranya,” pungkasnya Ghufron.

AINUL GHURRI

Editor      :
Reporter :