Maria si Pembobol BNI Didakwa Pasal Berlapis

Maria si Pembobol BNI Didakwa Pasal Berlapis
Maria Pauline Lumowa menjalani sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta Foto: keadilan/AG

KEADILAN- Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta Pusat, menggelar persidangan perdana pelaku pembobol PT Bank Negara Indonesia (BNI) senilai Rp1,7 triliun dengan terdakwa Maria Pauliene Lumowa alias Erry.

Maria hadir mengenakan rompi merah jambu khas tahanan Kejaksaan Agung. Jaksa dari Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, telah menyiapkan delapan personel Jaksa Penuntut Umum untuk melakukan penuntutan terhadap terdakwa.

Jaksa mendakwa Maria Pauline dengan dua dakwaan yaitu  pemberantasan tindak pidana korupsi serta pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang (TPPU).

Dakwaan pertama, jaksa Sumidi mengatakan, Maria sebagai pemilik PT Sagared Team dan Gramarindo Group telah merugikan keuangan negara lebih dari Rp1,2 triliun dengan cara membobol kas Bank Negara Indonesia (BNI) 46 cabang Kebayoran Baru lewat Letter of Credit (L/C) fiktif. Dia melakukannya bersama sembilan orang lainnya, termasuk Adrian Herling Waworuntu.

“Yaitu memperkaya terdakwa, memperkaya orang lain yaitu saksi Adrian Herling Waworuntu, memperkaya koorporasi yaitu PT Jaka Sakti Buana Internasional, PT Bima Mandala, PT Mahesa Karya Putra Mandiri, PT Parasetya Cipta Tulada, PT Infinity Finance, PT Brocolin International, PT Oenam Marble Industri, PT Restu Rama, PT Aditya Putra Pratama Finance dan PT Grahasali,”¬† kata Sumidi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (13/1/2021).

Dengan perbuatannya, Maria diancam pidana dalam Pasal 2 ayat (1) jo pasal 18 UU No. 31/1999 tentang UU Tipikor sebagaimana diubah dengan UU No. 20/2001 tentang perubahan atas UU No. 31/1999 tentang pemberantasan Tipikor Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Maria juga didakwa melakukan pencucian uang ke dalam penyedia jasa keuangan PT Aditya Putra Pratama Finance dan PT Infinity Finance baik atas nama Maria sendiri dan koorporasi yakni PT Sagared Team, PT Bhinekatama Pasific, PT Magnetiq, PT Gramarindo Mega Indonesia, PT Bima Mandala, dan PT Dimas Drilindo.

Kepada PT Aditya Putra Pratama Finance, Maria menaruh uangnya sebesar 4.800.000 dolar AS dan Rp20.309.379.384.

“Sedangkan pada PT Infinity Finance, Maria membeli 70% saham perusahaan tersebut sebesar 1.000.000 dolar AS dan modal kerja sebesar Rp4.000.000.000,” terangnya.

Atas perbuatannya, Maria didakwa melanggar Pasal 6 ayat (1) huruf a dan b UU Nomor 15 tahun 2002 tentang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang yang diubah dengan UU Nomor 25 tahun 2003 tentang perubahan atas UU Nomor 15 tahun 2002 tentang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang.

Untuk diketahui, tertangkapnya buronan pembobol BNI ini membuka kotak pandora kasus ini. Butuh waktu 17 tahun bagi pemerintah untuk menangkapnya. Maria kini harus mengakhiri pelariannya dan dicokok pulang oleh Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) lewat jalur ekstradisi dari Serbia, Kamis (9/7/2020) lalu.

Jika membuka rekam jejak kasus pembobolan oleh Maria dan kawan kawannya, tampak bahwa sejak awal pengucuran fasilitas letter of credit (L/C) senilai USD157,4 juta dan 56,1 juta euro ini penuh kejanggalan.

Bukan cuma proses pengajuan yang menerabas prosedur normal. Penelitian terhadap berkas-berkas pengajuan L/C Rp1,2 triliun oleh Maria banyak bolongnya. Hasil tim audit BNI yang bekerja sejak awal Agustus 2003 saat itu membuktikan kejanggalan tersebut.

Misalnya, bank penerbit L/C-Dubai Bank Kenya Ltd, Rosbank Switzerland SA, Middle East Bank Kenya, The Wall Street Banking Corp.-bukan termasuk bank koresponden BNI.

Repotnya, BNI saat itu terkesan tidak memverifikasi keabsahan dokumen pengapalan atau bill of loading (B/L). Sebagai contoh, jumlah barang yang dikirim yaitu pasir kuarsa dan minyak residu terkesan tidak wajar.

Bobot sampai 1,5 juta metrik ton pasir, seperti tertulis di formulir, tapi cuma diangkut dengan satu kapal.

Pelabuhan yang dituju pun tak disebutkan dengan pasti, begitu pula dengan alamat tujuan pengiriman barang yang tak jelas. Yakni, hanya B/L yang dikeluarkan oleh PT Celebes Jaya Lines.

Uniknya, L/C yang jatuh tempo dilunasi dengan uang yang ditransfer dari rekening nasabah. Padahal, seharusnya Bank BNI menagih ke bank penerbit L/C dan transfer dilakukan bank tersebut. BNI sendiri tampaknya menganggap wajar hal itu.

Ironisnya, pada kenyataannya Bank BNI tak pernah mengajukan keberatan atas pembayaran ini. Lebih aneh lagi, ada beberapa wesel ekspor berjangka yang belum jatuh tempo malah sudah dimintakan perpanjangan sampai enam bulan.

Kalau tidak dimuluskan orang dalam BNI sendiri, hampir tak mungkin segala keanehan itu bisa berlangsung sejak Desember 2002 sampai Juli 2003.

Keanehan itu baru diketahui oleh bagian treasury BNI pada Juni 2003 silam, setelah menemukan peningkatan angka kewajiban dalam mata uang euro di atas tingkat rata-rata. Mendapat laporan itu, segera tim audit BNI diturunkan.

Akhirnya ditemukan kejanggalan seperti di atas. Temuan tim audit lantas meledak ke mana-mana yang kemudian menjadi skandal pembobolan Bank BNI sebesar Rp1,2 triliun dengan L/C fiktif .

Dugaan L/C fiktif oleh BNI ini kemudian dilaporkan ke Mabes Polri. Namun, sebulan sebelum ditetapkan sebagai tersangka oleh tim khusus yang dibentuk Mabes Polri, Maria Pauline sudah lebih dahulu kabur ke Singapura pada September 2003 silam.

AINUL GHURRI

Share