Belajar Daring Menyusahkan Orangtua dan Guru

Belajar Daring Menyusahkan Orangtua dan Guru
Ilustrasi.

KEADILAN – Sejumlah orangtua siswa mengaku sangat terbebani dan kesulitan belajar secara online (daring), terutama yang berada di pinggiran kota atau pelosok desa. Bukan hanya dari kalangan orang tua saja, beberapa guru juga berharap, supaya proses belajar bisa kembali normal, walau harus tetap melaksanakan protokol kesehatan.

“Anak saya dua yang sekolah, setiap hari pulang kerja saya harus membuka hape, baru melihat tugas anak, lalu melihat yang satu lagi dan tiap hari sangat melelahkan,”kata Uly br Pasaribu warga Johor, Rabu (29/7) salah satu orangtua murid.

Baginya, belajar secara daring ini tidak maksimal, apalagi hape yang dimilikinya hanya dua itupun satunya milik suaminya yang bekerja sebagai driver ojek online.

“Saya tidak mengerti sampai kapan ini akan terus berlanjut, biaya hidup makin tinggi dan kebutuhan anak juga terus bertambah,” keluhnya.

Hal senada disampaikan Wati salah satu guru TK swasta di Deli Tua, Kanal Medan yang mengaku sedih melihat anak-anak tidak mendapat pendidikan yang layak. Padahal, pendidikan anak usia dini adalah masa emas bagi anak-anak karena sedang proses pertumbuhan.

“Saya pribadi berharap sekolah bisa dibuka. Sedih lihat anak-anak sekarang ini tidak bisa mengenyam pendidikan, padahal usia mereka usia yang butuh pendidikan,” tambahnya.

Dia berharap, aturan dan penerapan protokol kesehatan juga harus diterapkan, semisal membagi jumlah siswa dan mempersingkat jam belajar hingga memperbanyak aktivitas diluar ruangan dan tentunya tetap pakai masker dan cuci tangan.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Medan, Ahmad Johan menyampaikan, regulasi tentang belajar secara online merupakan regulasi secara nasional dan kebijakannya dibuat di tingkat pusat. Dirinya berharap, orang tua tetap sabar dalam menjalani aktivitas mendampingi anak anak dirumah dan bagi para guru tetap memperhatikan kebutuhan para murid dengan membantunya secara maksimal.

Marulitua Tarigan

Share